Asosiasi Blockchain: Eksistensi Bitcoin akan Berumur Panjang

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 15/05/2019 07:00 WIB
Asosiasi Blockchain: Eksistensi Bitcoin akan Berumur Panjang Ilustrasi, (REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) memprediksi eksistensi Bitcoin yang sudah berumur 10 tahun akan berlangsung lama. Prediksi ini diungkapkan berdasarkan teori Lindy Effect.

Lindy Effect merupakan sebuah teori atau gagasan yang memprediksi harapan hidup sebuah teknologi. Teori ini berlandaskan gagasan bahwa semakin lama teknologi tersebut hidup, semakin lama teknologi tersebut akan hilang.

Berbeda seperti manusia yang akan mati di hari tua, semakin tua teknologi maka semakin lama pula harapan hidupnya.
"Lindy Effect adalah teori yang mengungkap teknologi tidak seperti manusia yang tua lalu mati. Semakin teknologi ini eksis maka akan semakin lama pula dia mati," ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Blockchain Indonesia Muhammad Deivito Dunggio usai acara KVB Journalist Class di Jakarta, Jumat (10/5).


Deivito mengatakan Bitcoin yang telah berumur 10 tahun ini memiliki hal-hal positif. Salah satunya adalah sistem kas buku besar bitcoin, blockchain yang belum pernah dibobol peretas.

Blockchain sulit untuk diserang oleh peretas karena sifatnya yang terdesentralisasi atau memiliki banyak server. Untuk bisa membobol membobol teknologi ini, peretas mesti membobol banyak server yang tervalidasi.

"Saya yakin itu lama karena teknologi ini adalah satu satunya teknologi pencatatan yang akan lama bertahan. Karena satu satunya teknologi yang sudah berjalan dan dalam waktu 10 tahun ini tidak bisa diretas," kata Deivito.

Belum lagi satu server dengan server lainnya saling terantai satu sama lainnya sehingga peretas juga tidak bisa mengubah data dalam server. Apabila peretas mengubah data dalam server maka akan langsung ketahuan.
"Di mana kalau ada yang mau manipulasi data, semua orang bisa lihat. Ini adalah sebuah rekor yang dipertahankan. Belum ada pencatatan basis data mana pun yang berumur 10 tahun dan tidak bisa diretas," kata Deivito.

Deivito tidak menutup kemungkinan peretasan terjadi akibat pencurian private key yang berfungsi sebagai pin investor bitcoin. Apabila peretas bisa mencuri private key pengguna, maka peretas bisa mengakses dompet digital pengguna.

Kendati demikian dari sistem blockchain, Deivito memprediksi tidak akan ada yang mampu melakukan manipulasi data atau meretas blockchain. Akan tetapi peretas memang bisa mengeksploitasi kesalahan pengguna, Deivito menyarankan agar pengguna tetap berhati-hati menjaga private key.

"Misalnya saat kita ketika membagikan private key di website. Ternyata website palsu dan mereka ambil private key kita. Itu bisa diambil dan itu adalah kunci mencuri atau mengambil bitcoin yang dalam blockchain. Melalui kelemahan kita dalam mengamankan private key," ujar Deivito. (jnp/age)