Pemerintah Libatkan Produsen Truk untuk Pengujian B30

ray, CNN Indonesia | Selasa, 21/05/2019 09:22 WIB
Pemerintah Libatkan Produsen Truk untuk Pengujian B30 Ilustrasi. (Foto: Robert Galbraith)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah melibatkan kendaraan komersial yang dipasarkan di Indonesia untuk menguji campuran Biodiesel 30 persen atau B30 yang hasilnya diprediksi keluar pada awal semester II 2019.

Salah satu produsen kendaraan komersial yang diajak untuk membuktikan B30 adalah PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) sebagai distributor resmi Mitsubishi Fuso.

"Jadi sedang persiapan untuk pengetesan bersama. Diminta siapin (oleh pemerintah), mobil kami iya, kompetitor iya diuji. Setahu saya gitu semua diminta menyediakan kendaraan untuk diuji" kata Direktur Sales & Marketing PT KTB Duljatmono di Tangerang, Senin (20/5).


Program Mandatori Campuran Biodiesel B30 akan disampaikan pada Oktober 2019, dan akan berlaku pada Januari 2020.

Sebelum B30, saat ini Indonesia sudah menganut sistem B20 atau campuran Biodiesel 20 persen yang terbuat dari minyak kelapa sawit. Aturan tentang B20 tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 41 Tahun 2018 yang diundangkan dan berlaku pada 24 Agustus 2018.

Sesuai dengan Permen ESDM Nomor 41 tahun 2018, bahan bakar jenis solar yang dijual di SPBU saat ini merupakan B20.

Duljatmono mengatakan pengujian tidak akan berbelit-belit. Produsen hanya cukup menyerahkan truknya tanpa modifikasi apapun.

Ia menjelaskan truk-truk milik APM nantinya bakal diisi menggunakan bahan bakar B30. Dari sana pemerintah akan mengamati efek dari mesin truk spesifikasi B20 saat 'minum' B30.

"Pakai kendaraan yang sekarang, cuma bahan bakarnya B30. Dicoba nih, cocok apa tidak. Dites dulu, jika tidak cocok baru mungkin akan dimodifikasi agar sesuai sama bahan bakar B30," ungkapnya.

Ia tidak berani menyimpulkan modifikasi apa yang bakal dilakukan jika produknya menenggak B30. Tapi berkaca pada penerapan B20, truknya hanya perlu menambah filter hingga menjadi dua filter BBM untuk antisipasi efek buruk minyak nabati.

"Ya filter bahan bakarnya saja jadi dua," tutup Duljatmono. (ryh/mik)