"Orang pikir digital itu tidak aman, salah, digital itu jauh lebih aman. Kenapa? Karena semua itu terjadi kalau kita lihat secara ada data dan ada flow-nya (alur), jadi bisa ditelusuri kalau terjadi kehilangan dan bisa dicari tahu masalahnya," ujar Vincent di kantor DANA, Jakarta, Selasa (21/5).
Lebih lanjut Vincent mengatakan pembayaran tunai memiliki banyak kendala seperti uang rusak bahkan palsu, serta rekonsiliasi yang tidak tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Pinjaman Online Semarak Sambut Lebaran |
"Infrastrukturnya harus ready (siap), integrasinya harus siap dari penerimaan merchant-nya (pedagang) juga harus siap. Benefit-nya (keuntungannya) sekarang banyak, kalau berintegrasi secara digital transaksi itu bisa terjadi kapan pun, di mana pun dan uangnya bisa diterima segera," jelas Vincent.
"Untuk pengajaran ke masyarakat, caranya kalau kita ngomong satu kota agak sulit karena kita lebih melihat gimana caranya ke masyarakatnya sudah siap dulu. Contoh yang lebih mudah bertukar ke tradisional ke digital itu biasanya ke masyarakat yang lebih muda atau millenial," kata Vincent.
Selain itu, transaksi nontunai juga dapat membuat penggunanya menjadi konsumtif. Pasalnya, transaksi nontunai memudahkan akses kepada konsumsi. Terlebih dengan adanya berbagai promosi. Disinilah pentingnya edukasi penggunaan transaksi nontunai bagi masyarakat.
DANA sendiri merupakan perusahaan rintisan yang bergerak si bidang teknologi finansial yang menyediakan infrastruktur pembayaran. Aplikasi berbasis iOS dan Android ini telah diperkenalkan secara masif semenjak akhir 2018 silam. (din/eks)