Pengguna Keluhkan Lambatnya Koneksi VPN

eks, CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 23:47 WIB
Pengguna Keluhkan Lambatnya Koneksi VPN Ilustrasi (Istockphoto/Prykhodov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengguna internet di Indonesia mengeluh soal lambatnya akses VPN (virtual private network) yang mereka gunakan. Sejak pemerintah mengumumkan pembatasan akses media sosial, netizen menggunakan VPN untuk mengakali kebijakan tersebut.

Hal ini seperti diungkap Audizarachma, pegawai swasta. Menurutnya, ia telah mencoba melakukan koneksi dengan berbagai aplikasi namun seringkali gagal terhubung.

"Awalnya tadi pake Halo VPN. Nah, waktu nyobain nggak bisa sama sekali dipakai. Padahal sudah diulang-ulang terus (koneksinya) akhirnya uninstall," tuturnya saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com via pesan singkat, Rabu (22/5).


"Terus nyoba pake aplikasi VPN lain dan ternyata juga nggak bisa udah dicobain berkali-kali juga. Akhirnya memutuskan menyerah.
Tapi, ini kayaknya sudah mulai bisa dipake lagi, walaupun delay juga," lanjutnya.

Masalah sulitnya terkoneksi dengan layanan VPN juga dialami oleh Elise Dwi, karyawan swasta. Menurutnya ia sempat bisa menggunakan VPN untuk mengatasi kesulitan akses layanan perpesanan WhatsApp dan media sosial. Tapi, ia tetap mendapat koneksi yang tidak lancar.

"Tadi bisa pakai VPN buat kirim WhatsApp. Sempat nyambung-enggak, nyambung, lalu sekarng enggak nyambung lagi," tulisnya lewat pesan teks.

Kendala koneksi juga dialami Puput Tripeni. Ia berkali-kali berusaha terhubung ke VPN, namun tak kunjung bisa mendapat akses. Bahkan peringatan pada aplikasi VPN di ponselnya menyebut kalau "Server VPN tidak merespon".

Selain itu, keluhan serupa juga dicuitkan oleh para netizen di internet.









Pengguna lain menyebut penggunaan VPN menyedot kuota lebih banyak selain membuat koneksi lambat.



Pemerintah menyatakan telah membatasi akses sosial media dan layanan pesan instan seperti WhatsApp dan akan dilakukan secara bertahap.

Pembatasan akses media sosial dilakukan dengan mengurangi kecepatan pengguna dalam mengunggah dan mengunduh konten seperti foto dan video. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran informasi hoaks terkait kerusuhan 22 Mei. (eks/eks)