Analisis

People Power, Kekuatan Medsos, dan Pengaruh Media Daring

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 12:25 WIB
Aksi 22 Mei. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Istilah 'People Power' atau kekuatan rakyat pertama kali diucapkan oleh Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat melakukan Apel Siaga atau aksi 313 (31/3) di depan kantor Komisi Pemilihan Umum. Tak dinyana, istilah tersebut justru menyulut gerakan-gerakan perlawanan saat pasangan capres-cawapres nomor urut 02 tersebut kalah.

Alhasil, gerakan mengatasnamakan kekuatan rakyat digaungkan di media sosial, termasuk platform pesan instan WhatsApp.

Laporan Drone Emprit untuk penggunaan kata kunci People Power selama periode 31 Maret hingga 21 Mei menyebut ada 587,1 ribu (587.091) percakapan mengenai People Power di Twitter.


Total ada 650,1 ribu (650.194) percakapan People Power di media sosial maupun media massa. Terkait media sosial, Drone Emprit mencatat Facebook menyumbang 14,8 ribu percakapan, YouTube 1,6 ribu, dan Instagram 26,2 ribu.

Pendiri mesin pengais media sosial Drone Emprit, Ismail Fahmi mencatat percakapan People Power di Twitter meningkat pada 5 April dengan angka sekitar 10,6 percakapan.

Tren tersebut sempat naik turun di kisaran angka 7.000 hingga 13 ribu percakapan. Tren percakapan People Power naik drastis pada 10 Mei dengan jumlah percakapan 30,8 ribu.

Percakapan People Power mencapai puncaknya jelang hari pencoblosan pada 17 Mei lalu. Tercatat hampir 42 ribu percakapan People Power terjadi pada 14 Mei lalu. Angka percakapan bahkan masih tinggi sebanyak 31,8 ribu percakapan pada 21 Mei.

Ismail mengatakan Twitter memiliki keunggulan karena lebih terbuka dibandingkan media sosial lainnya seperti Facebook dan Instagram. Twitter memiliki jangkauan luas untuk mempenetrasi suatu narasi politik. Pasalnya begitu suatu narasi atau isu yang dibangun menjadi trending, maka isu tersebut menjadi kuat dan dapat dilihat oleh siapapun.

[Gambas:Video CNN]

"Twitter lebih terbuka, tapi Twitter terbuka bisa saling tahu yang ditulis lawannya. lebih open untuk lihat sana-sini. Kalau Facebook itu cenderung mereka hanya baca dari teman atau yang diikuti itu aja, jadi berputar-putar di satu lingkaran saja," ujar Ismail saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (22/5).

Oleh karena itu efek echo chamber di Facebook sangat kuat daripada Twitter. Fenomena ini adalah pengguna media sosial berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa.

Akibat fenomena echo chamber yakni saat ada berita hoaks, seseorang bisa langsung mempercayainya. Mengingat mereka sudah menerima validasi berita hoaks dari teman dengan pemikiran serupa. (evn)
1 dari 3