"Lebih banyak ke malware, malware itu sesuatu yang sangat tinggi. Jika saya lihat dari data Microsoft itu very clear Indonesia ada di top 3," kata Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (26/6).
Namun, saat ditanya lebih lanjut terkait peringkat negara yang paling bayak terkena serangan siber, Haris tidak menjawab dengan pasti. Ia juga tidak mengungkap jenis serangan lain selain malware yang kerap menyerang Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"[Faktanya] kalau dari segi statistik, sekitar 83 persen software di Indonesia ini ilegal. Tapi masyarakat Indonesia ini mulai mengapresiasi software yang asli," jelasnya.
Menyoal sikap Microsoft terkait perangkat lunak ilegal yang beredar di internet termasuk beberapa produk Microsoft sendiri, Haris mengatakan bahwa perusahaan melakukan banyak kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan perangkat lunak yang asli.
"Banyak usaha yang dilakukan, kita lakukan banyak kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk gunakan software asli. Kita juga banyak lakukan edukasi, kita banyak dialog dengan asosiasi sama pemerintah seperti seruan untuk mengganti sering password," tutur Haris.
Namun, Microsoft tidak dapat menjelaskan secara teknis apakah ada ciri khusus aplikasi yang telah tertanam malware namun Haris mengatakan biasanya ketika pengguna menggunakan perangkat lunak ilegal, peretas telah memasukkan sebuah aplikasi mini tertentu yang bisa membuka data pengguna.
"Yang bisa saya sharing jadi ketika Anda menggunakan ilegal software, sudah ada tertanam seperti sebuah aplikasi mini tertentu yang bisa membuka data Anda. Memang kelihatan normal tapi dibelakangnya banyak data yang akan diambil," pungkasnya. (din/eks)