Hal itu disampaikan usai dua kejadian gempa bumi di Halmahera Selatan dan Bali yang terjadi pada waktu yang berdekatan.
"Memang hasil monitoring gempa bumi menunjukkan beberapa bulan terakhir ada peningkatan aktivitas kegempaan di laut Maluku, selatan Sumbawa, dan selatan Bali," kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono melalui pesan singkat yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (17/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Daryono menjelaskan gempa yang terjdi di Halmahera Selatan berkekuatan magnitudo 7,2 SR akibat aktivitas sesar aktif yaitu Sesar Sorong Bacan.
Saat ditanya apakah ada batasan waktu berapa lama peningkatan aktivitas gempa bumi terjadi, Daryono mengatakan tidak ada pola waktu yang spesifik.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, gempa bumi mengguncang Halmahera Selatan magnitudo 7,2 pada Minggu (14/7). Episentrum gempa tersebut berada sekitar 135 kilometer barat daya Ternate (Maluku Utara) atau 0.51 Lintang Utara dan 126,18 Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer.
Dua hari usai gempa bumi di Halmahera Selatan tepatnya pada Selasa (16/7) giliran masyarakat di wilayah Nusa Dua Bali diguncang gempa berkekuatan magnitudo 6. BMKG menyebut gempa itu terjadi di titik 9.11 Lintang Selatan dan 114.54 Bujur Timur dengan kedalaman 68 kilometer.
Sebanyak tujuh kali gempa susulan terjadi pascagempa bumi bermagnitudo 6 SR mengguncang Kabupaten Jembrana. Kekuatan gempa susulan paling besar bermagnitudo 3,2 SR dan terkecil 2,5 SR. Gempa bumi berkedalaman menengah di Bali tersebut menurut hasil pemodelan BMKG tidak berpotensi tsunami. (din/eks)