'Oleh-oleh' Batuan Bulan di Misi Apollo 11 untuk Bumi

CNN Indonesia | Senin, 22/07/2019 11:00 WIB
'Oleh-oleh' Batuan Bulan di Misi Apollo 11 untuk Bumi Permukaan bulan yang diabadikan dalam misi Apollo 11. (Foto: NASA/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Misi Apollo 11 menjadi sebuah 'lompatan' besar bagi umat manusia di ranah ilmu sains dan pengetahuan untuk menjelajahi ruang angkasa. Misi 'Star Wars' ini kerap dikaitkan dengan Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet.

Tak dipungkiri misi 'Star Wars' berhasil mendorong perkembangan teknologi hingga ke batas atas dan berperan besar untuk ilmu pengembangan antariksa. Setiap misi ekspolrasi bulan selalu menghasilkan penemuan baru.

Apollo 11 tercatat membawa sampel 22 kilogram material Bulan saat kembali ke Bumi. Mengutip Lunar and Planetary Institute, material ini terdiri dari 50 batuan, sampel tanah bulan, dan dua tabung berisi material dari dalam 'perut' Bulan.


Sampel yang dibawa dari Bulan tidak mengandung air dan tidak memberikan bukti terkait organisme hidup di sana. Selama misi Apollo 11, dua astronaut NASA membawa pulang dua jenis batuan utaa yakni basalt dan breksi yang ditemukai di lokasi pendaratan 'Eagle'.

Basalt
Basalt merupakan batuan yang dipadatkan dari lava cair. Di Bumi, basalt merupakan jenis batuan vulkanik yang umum ditemukan di tempat-tempat seperti Hawaii. Basalt memiliki ciri fisik berwarna abu-abu gelap.

Oleh karena itu, ketika seseorang melihat Bulan di langit malam akan terlihat area gelap di bulan berupa batuan basalt. Basal yang ditemukan di lokasi pendaratan Apollo 11 umumnya mirip dengan basalt yang ada di Bumi, termasuk kandungan mineral piroksen dan plagioklas.

'Oleh-oleh' Batuan Bulan di Misi Apollo 11 untuk BumiJejak pendaratan Neil Armstrong di Bulan. (Foto: REUTERS/NASA/Handout via Reuters)

Kendati demikian, ada satu perbedaan basal yang ditemukan di Bumi dan Bulan. Basat di Bulan mengandung lebih banyak unsur titanium dibandingkan yang ada di Bumi.

Basalt yang ditemukan di situs pendaratan Apollo 11 berusia 3,6 hingga 3,9 miliar tahun dan terbentuk dari setidaknya dua sumber magma yang berbeda secara kimia.

Breksi
Breksi merupakan batuan yang tersusun dari fragmen batuan yang lebih tua. Sejak terbentuknya, Bulan telah dibombardir oleh banyak meteorit. Dampak ini telah memecah banyak batu menjadi fragmen-fragmen kecil.

Panas dan tekanan dari tumbukan meteorit terkadang  memadukan pecahan-pecahan batu kecil menjadi batuan baru yang kemudian dinamakan breksi.

Fragmen-fragmen batuan dalam breksi dapat mencakup basalt maupun material dari dataran tinggi bulan. Dataran tinggi bulan terutama batuan berwarna terang yang dikenal sebagai anorthosite, yang terdiri dari mineral plagioklas.

Sangat jarang menemukan batuan di Bumi yang merupakan plagioklas murni. Di Bulan, diyakini bahwa lapisan anorthosite di dataran tinggi terbentuk sangat awal dalam sejarah Bulan ketika banyak lapisan luar Bulan meleleh. 

Tahap ini dalam sejarah bulan dikenal sebagai 'magma ocean'. Anorthosite yang kaya akan plagioklas mengapung di atas samudera magma seperti gunung es di lautan Bumi.

Dilansir dari CNN, peneliti akan melakukan penelitian terhadap sampel yang dibawa pulang Apollo 11 untuk mencari tanda-tanda kehidupan.

Meskipun hasil penelitian tidak menunjukkan tidak percaya bahwa ada kehidupan di bulan, kemungkinan kehidupan di Bulan tidak dapat dikesampingkan sepenuhnya. 

Studi yang dilakukan di Ames dan Johnson Space Center di Houston, menunjukkan bahwa bulan tidak mendukung kehidupan. Studi tersebut adalah pertama kalinya NASA menggunakan sampel dari luar angkasa untuk mencari kehidupan di luar Bumi.

[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)