"Masih erupsi freatik dengan disertai abu, belum erupsi magmatik," jelas Kepala PVMBG Kasbani saat dihubungi CNNIndonesia.com via pesan teks, Rabu (4/9).
Sebelumnya awal bulan lalu, Gunung Tangkuban Parahu juga sempat mengalami erupsi freatik pada Jumat petang (2/8/2019). Saat itu gunung di utara Bandung itu mengeluarkan abu tanpa mengeluarkan magma dan awan panas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Tanda-tandanya) berupa magma yang keluar permukaan atau lava. Ada batuan baru yang keluar dari dalam [...] harus batuan yang dari magma yang keluar, itu batu (erupsi) magmatik," lanjutnya.
"Kalau jaman prasejarah mungkin ada, tapi belum terekam. Tapi dari (catatan sejak) zaman Belanda (1829) ini sampai sekarang belum," tandasnya.
PVMBG sendiri telah memiliki peta mitigasi bencana jika Gunung Parahu meletus. Lembaga itu membagi tiga zona yang terdampak, KLB 1,2, dan 3. KLB 3 merupakan daerah yang paling terdampak letusan.
"Saat ini rekomendasi (kawasan yang dilarang) 1,5 kilo (dari kawah) karena letusan freatik, tidak ada erupsi magmatik," tuturnya.
Kasbani juga menyebut hingga saat ini belum ada indikasi letusan Tangkuban Parahu berubah menjadi letusan magmatik.
[Gambas:Video CNN] (eks/eks)