Domain mesin pencari anyar tersebut ada dibawah produk agregator berita, Jinri Toutiao. Langkah ini dinilai bakal menyaingi mesin pencari terpopuler di negara itu, Baidu.
Sebelumnya, ByteDance dikabarkan tengah mengembangkan bisnis smartphone. Perusahaan itu bahkan diberitakan telah menandatangani kesepakatan dengan pemanufaktur ponsel untuk mewujudkan rencananya itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:6 Tren Pengguna Ponsel Indonesia di 2019 |
Saat ini ByteDance juga menggarap bisnis perpesanan untuk perkantoran dan layanan streaming musik. Dengan demikian menempatkan grup perusahaan ini dalam persaingan dengan Tencent dan perusahaan teknologi China lainnya.
Bulan lalu, perusahaan itu mengumumkan tengah mencari ahli teknis dari Google, Baidu, dan Bing. Hal ini diumumkan pada akun media sosial miliknya.
Sebagai contoh, hasil pencarian dengan kata kunci yang berkaitan dengan aksi kekerasan terhadap mahasiswa di Tianmen Square pada 1989 tidak muncul. Alih-alih, hasil pencarian menunjukkan hasil dari People Daily dan sumber situs resmi lainnya.
Baidu sudah menjadi situs pencari dominan di China sejak Google hengkang dari negara itu pada 2010. Keluarnya Google dari China karena perusahaan itu menolak permintaan untuk memfilter hasil pencarian mereka sesuai dengan permintaan pemerintah China.
Pada 2018, Baidu menguasai pencarian di China. Sebanyak 66 persen pencarian di perangkat desktop dan 71 persen di perangkat mobile dilakukan di perangkat tersebut, seperti dilaporkan StatCounter.
"Kami telah memprediksi akan ada dua pemain baru bagi pemain mesin pencari tiap tahunnya," jelas Ping Xiaoli, General Manager dari aplikasi Baidu kepada wartawan pekan lalu terkait mesin pencari milik ByteDance.
"Kami telah mendominasi pasar selama dua dekade," tambahnya. (eks)