Tawaran Cashback dan Lonjakan Pengguna Dompet Digital

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 11:30 WIB
Tawaran Cashback dan Lonjakan Pengguna Dompet Digital Ilustrasi. (CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Cashback 30 persen", "Cashback 50 persen"

Poster dengan kalimat di atas tentu tak asing lagi. Bagi penyuka jajanan, poster dengan tawaran cashback dari berbagai dompet digital bak oase di tengah gurun pasir. Dua tahun belakangan ini, aplikasi dompet digital memang semakin masif. Salah satu cara menggaet pelanggan baru dengan menggunakan 'iming-iming' cashback.

Bujuk cashback ini ternyata membuahkan hasil positif. Riset iPrice bersama App Annie melihat jumlah unduhan aplikasi dompet elektronik melesat naik sejak 2017 hingga kuartal II/2019.


Dompet digital milik Gojek, yakni Gopay menjadi aplikasi dengan pengguna aktif terbanyak di Indonesia.
Dihimpun dari laman Medium, 30 persen dari total transaksi uang elektronik di Indonesia berasal dari Gopay. Bahkan pada Februari lalu, Gopay berhasil menyentuh angka transaksi sebesar US$6,3 miliar dengan total 70 persen didapatkan dari transaksi Gojek menggunakan Gopay sebagai metode pembayaran.

Selain Gopay, sebagai pendatang baru di industri dompet digital, DANA berhasil masuk ke dalam daftar aplikasi dompet digital populer. Data riset iPrice menunjukkan bahwa DANA memiliki pengguna aktif bulanan yang relatif stabil sejak kuartal IV/2018 hingga kuartal II/2019.

"Dana berhasil naik satu peringkat pada kuartal II/2019 menggantikan LinkAja di posisi ketiga. Berbeda dengan jumlah download aplikasi, DANA turun satu peringkat ke posisi 3 digantikan oleh OVO pada kuartal II/2019," kata Perwakilan iPrice Grup dikutip keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (13/8).

Aplikasi dompet elektronik milik Lippo Group, OVO bertengger di posisi kedua berdasarkan jumlah unduhan aplikasi di kuartal II/2019. Pada sektor transportasi, OVO melebarkan sayap sebagai metode pembayaran di Grab Indonesia.
Perlahan gaung cashless society yang sempat diumumkan oleh pemerintah mulai terjadi. Namun, ada pergeseran dari penggunaan kartu debit atau uang elektronik menjadi dompet elektronik.

Dalam satu genggaman ponsel, pengguna bisa melakukan puluhan transaksi. Bahkan bisa jauh lebih murah dengan tawaran cashback yang diberikan.

Bank pun mulai melirik dompet digital. LinkAja yang berawal dari TCash milik Telkomsel, menjelma menjadi dompet digital gabungan perusahaan BUMN yakni Telkomsel, Bank Mandiri, BNI, BRI dan lainnya,

LinkAja resmi menjadi pesaing Gopay dan OVO dengan total 22 juta pengguna yang terdaftar. iPrice mencatat LinkAja bertahan di posisi ketiga dari kuartal II/2018 hingga kuartal I/2019. Untuk data jumlah unduhan aplikasi, terjadi penurunan pada kuartal IV/2018.

Selain LinkAja, hadir pula dompet elektronik Jenius milik BTPN dan Sakuku milik BCA.

iPrice mencatat perkembangan aplikasi dompet elektronik meningkat sekitar 50 persen sejak kuartal keempat tahun 2017 hingga kuartal kedua 2019.

QR Code, Teknologi Dompet Elektronik

Menurut iPrice, layanan teknologi finansial dianggap dapat memberikan kemudahan untuk bertransaksi baik online maupun offline melalui satu layanan.

Selain itu, riset iPrice Group dan App Annie menunjukkan metode pembayaran menggunakan QR Pay paling banyak dipakai di aplikasi dompet digital. Ada 19 aplikasi yang terdaftar menggunakan metode ini sebagai opsi pembayaran.

Pasalnya pemerintah telah mengeluarkan QRIS (Quick Response Indonesia Standard) sebagai salah satu standarisasi upaya peningkatan pengunaan cashless di Indonesia. Pembayaran via QR code juga dijadikan sebagai solusi metode pembayaran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). (din/age)