Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menerangkan uji coba sistem ini berdasarkan fenomena gempa yang kian kompleks dan tidak pasti.
Dwikorita juga mengatakan saat ini pihaknya merasa tidak cukup hanya dengan memberikan informasi paramater gempa bumi yang disebarkan sesaat setelah terjadi guncangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati bisa memberi peringatan dini, Dwikorita menegaskan sistem ini bukan bertujuan untuk meramal kapan terjadinya gempa besar.
Rahmat Triyono, kepala pusat gempa dan tsunami BMKG menerangkan konsep dasar sistem EEWS menggunakan 'end to end system' yang mampu memberi peringatan dini gempa kuat.
EEWS mencakup tiga siste yakni monitoring yang mendeteksi gempa bumi di hulu, pengolahan data secara cepat, dan sistem diseminasi penyebarluasan informasi atau peringatan dini di hilir untuk menyasar masyarkat beserta saran untuk menyelamatkan diri.
Data yang masuk akan otomatis diolah dan hasilnya akan disebarkan ke penerima yang ada di stakeholder atau melalui aplikasi mobile, penerima 9receiver ini juga dapat dipasang pada objek vital seperti kereta cepat, MRT, industri vital, pusat keramaian (mall), dan area pemukiman dan perkantor
Ia menerangkan ketika terjadi gempa, makan sensor EEWS akan merekam datangnya gelombang P. Sistem akan spontas menginformasikan estimasi tingkat guncangan yang mungkin terjadi dan waktu kedatangan gelombang S. Rencananya 19 unit sensor EEWS akan dipasang di wilayah Banten, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, dan Banten. Apabila uji coba sistem berhasil, maka rencananya akan dikembangkan secara masih ke seluruh Indonesia.
[Gambas:Video CNN] (evn)