Pengusaha Taksi Protes Kehadiran Gojek di Malaysia

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 19:00 WIB
Pengusaha Taksi Protes Kehadiran Gojek di Malaysia Ilustrasi (CNN Indonesia/Daniela Dinda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana beroperasinya Gojek di Malaysia menuai protes dari pengusaha taksi asal Negeri Jiran. Pendiri perusahaan taksi Big Blue Taxi Shamsubahri menyampaikan ketidaksetujuannya pada proposal yang diajukan Gojek pada pemerintah setempat.

Jika pemerintah menyetujui proposal Gojek, maka Ia tak segan untuk memimpin aksi protes. Ia juga mengatakan kehadiran ojek online mampu mempengaruhi para supir taksi dan bus yang sudah ada.

"Saya akan memimpin sendiri protes, kita akan pergi ke Putrajaya, dan jika mungkin, kita akan melakukannya di depan rumah Syed Saddiq (Menteri Pemuda) dan rumah Loke (Menteri Transportasi)," katanya, Rabu (21/8), seperti dikutip Free Malaysia Today.


Tanggapan ini berawal dari Menteri Transportasi Loke Siew Fook yang mengatakan Menteri Pemuda Syed Saddiq berencana untuk mengajukan proposal Gojek ke kabinet dan mendiskusikannya. Jika kabinet menyetujui, maka kementeriannya akan melakukan studi lebih lanjut.

Selain itu, ia menganggap menjadi mitra Gojek tidak membawa masa depan bagi anak muda Malaysia.

"Gojek sebagai karir tidak akan menjamin masa depan, anak muda kita layak mendapatkan yang lebih baik dari itu," ujar Shamsubahri,

Menurutnya, rencana tersebut bisa menjadi kemunduran karena masih ada hal yang perlu dituntaskan pemerintah. Ia menginginkan pemerintah untuk fokus terlebih dahulu pada persoalan antara transportasi online dengan transportasi konvensional seperti taksi.

Shamsubahrin menambahkan pemerintah tidak seharusnya mendorong anak muda menjadikan transportsi online sebagai sebuah pekerjaan.

Sebelumnya, Kementerian transportasi Malaysia sempat didesak oleh para pengemudi taksi untuk memastikan layanan transportasi online juga menaati peraturan yang sama dengan taksi, dilansir dari The Star. Sebab, mereka menganggap kehadiran aplikasi transportasi online telah menodai bisnis mereka. Saat itu, baru Grab yang beroperasi di negara tersebut. (ndn/eks)