BMKG Bantah Udara PLTU Bekasi Sebabkan Polusi Jakarta

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 21:29 WIB
BMKG Bantah Udara PLTU Bekasi Sebabkan Polusi Jakarta Polusi Jakarta. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah kabar penurunan kualitas udara di Jakarta disebabkan oleh angin yang membawa debu dari PLTU batu bara dari Suralaya, Bekasi ke Jakarta.

"Secara klimatologis saat ini bulan Agustus di mana angin didominasi dari arah Timur hingga Tenggara menuju Barat hingga Barat Laut, baik di dekat permukaan maupun pada ketinggian 3000 feet [kaki]," tulis Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal dikutip dari keterangan rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (23/8) malam.

Lebih lanjut kata Herizal, berdasarkan pengamatan BMKG, kondisi polutan berupa partikulat PM2.5 Jumat pagi menunjukkan nilai 84.91 mikron. BMKG menyebut angka itu wajar terjadi di pagi hari namun berangsur menurun menjelang siang.


Selain itu BMKG juga mencatat pukul 14.00 WIB kadar PM2.5 turun ke angka 55.9 mikron dan dianggap sebagai batas aman karena di bawah nilai ambang batas 65 mikron.
"Berdasarkan hal tersebut, sangat kecil kemungkinannya partikel polutan dari arah PLTU Suralaya tepatnya di titik 5.89LS, 106.04BT, dan lokasinya di sebelah barat Kota Jakarta, menyebabkan penurunan kualitas udara Jakarta," pungkas Herizal.

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) sepakat dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyebut salah satu penyumbang terbesar polusi udara di Jakarta adalah PLTU berbahan bakar batu bara.

Walhi menilai emisi dari PLTU yang berbahan bakar batu bara itu menyumbang 20 hingga 30 persen polusi udara di Jakarta.
Setidaknya ada empat PLTU berbahan bakar batu bara yang dalam tahap pembangunan hingga saat ini yaitu PLTU Asahimas Chemical unit 1-2 berkapasitas 300 MW, PLTU Jawa-7 berkapasitas 2.000 MW, PLTU Jawa-9 atau Banten Exp. berkapasitas 1.000 MW, serta PLTU Jawa-6 atau Muara Gembong berkapasitas 2.000 MW.

Selain itu, Walhi juga menyebut sejumlah industri non pembangkit listrik di beberapa wilayah sekitar Jakarta juga masih banyak yang menggunakan bahan bakar batu bara. Menurutnya, industri-industri itu ikut menyumbang polusi udara di Jakarta. (din/age)