Plt Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu mengungkapkan aktivitas buzzer tersebut terpantau dari banyaknya akun palsu yang saling terkoneksi satu sama lain ketika berkomentar terhadap sebuah komentar di medsos yang juga diproduksi oleh akun palsu
"Awal mula ketika hari Senin dan Selasa pekan lalu kami melihat masih berupa perseorangan. Tapi belakangan isu ini akumulasi dikuatkan oleh buzzer-buzzer yang terkoneksi satu sama lain. Mereka saling me-retweet, membalas, me-reply, komen sehingga kemudian terjadi trending dan cukup viral di medsos," ujar Ferdinandus, Jumat (30/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada datanya," ujarnya.
Akibat tindakan itu, ia mencatat sepertiga kawasan Papua dan Papua Barat tidak dapat menggunakan jaringan telekomunikasi.
"Saat ini masih diperbaiki dan untuk sementara layanan itu dipulihkan. Tapi beberapa mengalihkan jaringan. Jadi langkah yang diambil PT Telkom adalah mengalihkan jaringan," ujarnya.
Dia pun mengungkap masih melakukan pemblokiran jaringan sejumlah provider telekomunikasi di kawasan Papua dan Papua Barat. Plt Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu mengatakan pemblokiran dilakukan dalam rangka mencegah masyarakat Papua dan Papua Barat terpapar isu dari berita-berita bohong yang ada di media sosial.
"Akses internet secara umum masih sama (diblokir). Artinya pemblokiran data internet secara umum masih dilakukan dengan tahapan yang sama," ujar Ferdinandus di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Jumat (30/8).
"Kalau (internet) itu kami buka untuk Papua, saya tidak bisa membayangkan akan terpaparnya saudara-saudara kita di Papua untuk menerima hoaks, terutama hasutan profokatif yang kemudian bisa melukai perasaan saudara-saudara kita di Papua. Ada 300 ribu URL," pungkasnya.
(pjs/age/age)