Catatan dari Balikpapan

Kicauan Pejuang Aspal Online di Calon Ibu Kota Baru

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Selasa, 03/09/2019 13:45 WIB
Kicauan Pejuang Aspal Online di Calon Ibu Kota Baru Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Balikpapan, CNN Indonesia -- Platform ride-hailing menawarkan tambahan sumber pendapatan baru dan waktu kerja yang fleksibel. Setidaknya dua hal itu yang mendorong derasnya minat terhadap profesi mitra transportasi online.

Masyarakat Indonesia diberdayakan oleh Grab dengan menggunakan teknologi untuk menciptakan kesempatan ekonomi yang positif.

Di calon ibu kota baru, Kalimantan Timur (Kaltim) para mitra merasakan dampak-dampak positif tersebut. Waktu kerja yang fleksibel serta menjadi bos atas dirinya sendiri menjadi alasan utama para mitra memilih untuk 'nge-Grab'.


Profesi pengemudi transportasi online banyak yang dijadikan profesi utama oleh para mitra pengemudi di Kaltim. Di Kalimantan Timur sendiri, Grab telah hadir sejak 2017, khususnya di Samarinda dan Balikpapan.

Grab Indonesia pada Rabu (28/8) mengajak beberapa media, termasuk CNNIndonesia.com untuk bertemu dengan para mitra GrabCar maupun GrabBike. Pertemuan ini juga diharapkan merefleksikan perkembangan teknologi Grab dan dampaknya terhadap perekonomian.

Di kota Balikpapan, CNNIndonesia.com bertemu dengan mitra GrabBike Rudiansyah dan mitra GrabCar Muhammad Yusuf. Kedua orang ini sebelumnya memiliki pekerjaan tetap, tapi meninggalkan pekerjaan tersebut demi nge-Grab.

Kedua pejuang aspal ini sama-sama beralasan memilih nge-Grab agar bisa memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga. Grab menjadi pilihan karena menawarkan jumlah penghasilan yang berbeda tipis atau sama dengan profesi sebelumnya.

Rudiansyah mengatakan memilih untuk menjadi mitra Grab karena anaknya sedang sakit sehingga ia membutuhkan waktu lebih untuk mengurus anaknya. Rudiansyah merupakan salah satu mitra pengemudi angkatan pertama saat Grab hadir di Balikpapan tahun 2017.

Sebelumnya ia bekerja di salah satu instansi pemerintah selama 10 tahun. Kewajibannya sebagai orang tua tunggal, membuat dirinya harus beralih menjadi mitra Grab.

"Saya merasa cocok karena saya merasa jadi diri sendiri, bebas bekerja dan tidak ada keterikatan waktu. Sering sekali bertemu keluarga, dan saya di rumah sebagai bapak rumah tangga juga. Jadi mungkin saya harus fokus mengurus anak saya ," kata Rudiansyah saat ditemui di daerah Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (28/8).

Ia mengaku bahkan kalau rajin, mitra Grab bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar dibandingkan penghasilan rata-rata. Dalam satu bulan, ia mengatakan rata-rata ia bisa mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp6 juta.

"Kalau di pemerintahan besar juga sebenarnya penghasilan besar. Tapi jangan salah kalau ada kemauan, kalau Grab lebih besar dari yang lain," ujarnya.

Senada dengan Rudiansyah, Yusuf juga mengatakan dirinya memilih untuk nge-Grab karena jam kerja yang fleksibel. Ia mengatakan lebih memilih untuk bekerja dekat dengan keluarga dengan jam yang fleksibel.

Yusuf mengatakan sebelumnya dirinya bekerja di perusahaan perminyakan swasta internasional. Profesinya mewajibkannya untuk dinas luar kota dan tidak bisa pulang ke rumah dalam waktu tiga hingga enam bulan.

Yusuf yang telah nge-Grab sejak 2017 mengatakan penghasilan saat ia bekerja di perusahaan berbeda tipis ketika ia menjadi pengemudi GrabCar penuh waktu. Dalam satu bulan, rata-rata ia bisa mengantongi pendapatan bersih Rp7 juta.

"Beda tipis dengan gaji di perusahaan. Pertimbangan saya itu saya harus kerja di luar kota tiga sampai enam bulan nonstop baru boleh pulang," ujarnya.

Yusuf juga mengatakan menjadi mitra GrabCar memberinya pengalaman-pengalaman unik setiap harinya. Mulai dari pelanggan dengan karakteristik yang berbeda-beda dan cerita-cerita sedih hingga bahagia.

"Di Grab ini kita tidak pusing di depan komputer melulu. Kita ketemu sama orang yang berbeda tiap hari. Sering banyak cerita yang ramai untuk diceritakan," katanya.

Yusuf berkisah ia pernah mengantarkan orang yang sedang sakaratul maut ke rumah sakit. Saat itu ia mengantarkan dirinya mengantarkan orang tersebut yang ditemani dengan keluarga ke rumah sakit.

"Sudah ngorok di mobil begitu saya angkat, saya taruh di keranjang IGD, saya sudah ngerasa wah sudah hilang. Karena saya pernah lihat paman saya nafas terakhir," ujarnya.

Yusuf juga mengaku dirinya pernah membawa seorang ibu yang kabur dari suaminya. Ibu tersebut kabur dari suaminya sambil membawa bayi.

"Atas permintaan istrinya. dia lari dari suaminya. Sampai dikejar-kejar motor saya dan diancam parang. Ya saya bawa lari daripada anaknya masih bayi terluka atau apa, saya bawa lari," katanya.

Di sisi lain, Rudiansyah juga berkisah ia pernah 'membawa' lari istri seseorang. Ia mengatakan ia pernah disangka selingkuhan istri oleh sang suami.

Kebetulan saat itu ia tidak memakai atribut Grab karena ada himbauan agar tidak memakai atribut tersebut. Pasalnya saat itu transportasi online sedang ada masalah dengan transportasi konvensional.

"Saya pernah dikejar sama aparat dikira saya selingkuh sama istrinya. Saat itu sedang ada masalah sama angkot dan dari pihak. Saya diikuti sama suaminya, tengah jalan saya dipalang dan ditabrak, sudah mau dipukul untung saya perlihatkan ponsel (aplikasi) saya," kata Rudiansyah.

Rudiansyah mengatakan terdapat penolakan dari angkutan umum dan ojek pangkalan di awal kehadiran transportasi online di Balikpapan. Ia mengatakan saat ini sudah hampir tidak ada penolakan yang berarti.

"Lambat laun sekarang sudah tidak ada penolakan, opang dan supir angkot juga malah bergabung. Kita sama pihak mereka sudah ada komunikasi, misalnya tidak ngetem di depan dia, lambat laun mereka bisa pahami itu," ujarnya.

Bahkan Yusuf bercerita pernah ribut dengan oknum ojek pangkalan dan angkutan umum di terminal. Ia ribut karena oknum tersebut mengganggu konsumen ketika hendak menggunakan layanan Grab.

"Jadi ada yang penumpangnya ditarik-tarik paksa, meskipun usianya sudah tidak muda. Kok kayaknya kurang ajar. Akhirnya ribut dan berakhir di kantor polisi, tapi bersyukur juga dengan berakhir di kantor polisi akhirnya kita cari jalan tengah," katanya.

Terkait perpindahan ibu kota dan pusat pemerintahan ke Kaltim, kedua mitra menyambut keputusan tersebut. Kedua mitra optimis, perpindahan ibu-kota bisa meningkatkan demand untuk transportasi online.

"Optimis akan terjadi peningkatan pesanan karena daerah Balikpapan terdekat dengan Penajam Pasir Utara daripada Samarinda atau Tenggarong. Efeknya ke depan pasti bakal ramai, untuk ke depannya pasti bakal ramai," kata Rudiansyah.

Isu perpindahan kota di sisi lain membuat Yusuf berharap agar permintaan pesanan transportasi meningkat di tengah meningkatnya persaingan pengemudi transportasi online. Meningkatnya persaingan disebabkan banyaknya jumlah mitra pengemudi dibandingkan jumlah permintaan pesanan perjalanan.

"Kendala saya mudah-mudahan tertutup dengan pindahnya ibu kota ke sini. Saya minta tolong Grab agar jangan tambah pengemudi lagi. Jumlah penumpang kan rata," ujarnya.

Suara Mitra Grab di Samarinda

Kehadiran teknologi Grab juga merata hingga ke ibu kota provinsi Kaltim, Samarinda. Di Samarinda, CNNIndonesia.com bertemu dengan mitra GrabBike Bambang Indrayanto dan mitra GrabCar Rizaldy Arief Ramadhan.

Kedua pengemudi telah bergabung sejak 2017. Bambang sendiri merupakan salah satu pendaftar pertama mitra GrabBike saat Grab baru hadir di Samarinda.

Sebelumnya, Bambang merupakan pekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak pasti. Ia mengaku dalam sehari bisa mendapat penghasilan Rp200 ribu. Per bulan ia bisa mengantongi Rp5 juta.

Bahkan saat momen-momen tertentu, pendapatannya bisa meningkat hampir lima kali lipat. Misalnya saat Pemilu dan Idul Adha, pendapatannya bisa mencapai 510 ribu per hari.

"Sebelumnya saya kerja bikin pagar. Pas tidak ada, ada Grab masuk dan saya coba. Awalnya seminggu cuman dapat pesanan sedikit, tapi sekarang bisa dapat 20 penumpang sehari," tutur Bambang.

Bambang juga mengatakan pernah diminta oleh seorang perempuan untuk kabur dari suaminya. Akan tetapi, ia mengatakan meminta agar konsumennya turun di tengah jalan tanpa perlu membayar ongkos.
"Pengalaman unik waktu bulan puasa, saat ngalong dapat pesanan dari ibu-ibu yang mau kabur dari rumah, terus suaminya mengejar dari rumah. Lalu konsumen turun, langsung kabur, tidak bayar," ujarnya.

Rizaldy juga ikut bercerita ketika ia memutuskan untuk bekerja penuh waktu sebagai mitra GrabCar. Ia mengatakan memutuskan untuk menjadi mitra GrabCar karena ia diminta untuk bekerja di luar kota.

Ia mengatakan sebelumnya bekerja di perusahaan tambang. Kemudian ia mendengar cerita dari seorang teman bahwa menjadi mitra GrabCar bisa menghidupi keluarga dan mejadi sumber penghasilan utama.

"Mau dipindahkan keluar daerah, tapi saya maunya tetap dekat dengan keluarga. Akhirnya saya dengar cerita teman, bahwa Grab ini bisa dijadikan pekerjaan tetap, makanya saya keluar dari perusahaan. Terus saya coba, ternyata bisa menghidupi keluarga, angsuran mobil, dan kebutuhan lainnya," kata Rizaldy.

Dalam satu bulan Rizaldy mengatakan mampu mendapatkan penghasilan kotor Rp9 juta hingga Rp10 juta. Ia berharap agar Grab bisa memberikan bonus atau poin atau kembali. Ia mengatakan sistem poin bisa membuat mitra semangat bekerja sekecil apa pun ongkos perjalanan.

"Sekarang yang Rp16 ribu sering mitra cancel, karena tarifnya rendah dan tidak ada bonus. Waktu sistem poin kami semangat, sampai tengah malam pun kami kejar," ujarnya. (age)