Digerogoti Vendor China, IDC Catat Samsung Rajai Indonesia

CNN Indonesia | Selasa, 03/09/2019 16:45 WIB
Digerogoti Vendor China, IDC Catat Samsung Rajai Indonesia Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- International Data Corporation (IDC) merilis laporan pengapalan ponsel pintar pada kuartal kedua 2019 di Indonesia dengan menahbiskan Samsung di peringkat pertama dengan pangsa pasar 26,9 persen.

Laporan Quarterly Mobile Phone Shipment yang dirilis IDC pada kuartal kedua 2019 mencatat merek China membuntuti Samsung di peringkat kedua hingga kelima.

Pada periode kali ini IDC mencatat rekor baru pengapalan ponsel pintar di Indonesia mencapai 9,7 juta unit pada Q2 2019. Rekor baru ini tercatat sebagai bentuk antisipasi vendor ponsel terhadap rencana pemberlakuan aturan pembatasan impor ponsel pintar ilegal.


"Pengiriman smartphone mencatatkan rekor baru dengan jumlah 9,7 juta unit di 2Q19," ujar Market Analyst IDC Indonesia, Risky Febrian dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (3/9).

"Sebagian penyebabnya dikarenakan oleh antisipasi para vendor smartphone dalam menghadapi rencana pemerintah untuk membatasi impor smartphone ilegal," pungkasnya.

Sementara Oppo bertengger di peringkat kedua dengan presentase 21,5 persen. Disusul Vivo (17 persen), Xiaomi (16,8 persen), Realme (6,1 persen), dan gabungan merek lain (11,7 persen).

IDC mencatat kemunculan ponsel seri Galaxy A memperkuat posisi Samsung di segmen menengah (rentang harga US$200 hingga US$400) dan premium (US$400 hingga US$600).

"Samsung mampu menawarkan perangkat dengan spesifikasi, fitur, dan rentang harga yang lebih kompetitif," imbuhnya.

Berbeda dengan Samsung, Risky menerangkan Oppo justru mengantongi pangsa pasar signifikan dari segmen low-end (US$100 hingga US$200). Cakupan Oppo yang luas di retail offline dan didukung dengan peluncuran seri baru A1K menjadi penyebabnya.

Aksi pemasaran Vivo yang agresif di ranah daring dan luring mendorong permintaan ponsel di kelas menengah. V15 dan ponsel Vivo lain di segmen menengah (harga US$200 hingga US$400) mendorong Vivo menempati posisi ketiga.

Kemunculan Redmi 7, Redmi Note 7, dan Redmi Go mendorong Xiaomi menempati posisi keempat. Risky mengatakan pihaknya mencatat permintaan Redmi Note 7 tinggi hingga membuat harganya ikut melambung. Sementara Redmi Go melampaui pengiriman Advan dan Evercoss di kelas ultra low-end (harga kurang dari US$100).

Strategi Realme yang menerapkan portofolio agresif lewat seri C3 dan 3 Pro mendorongnya berada di peringkat kunci. spesifikasi, desain fisik, serta inisiatif pengendalian arga yang ketat dianggap sebagai langkah tepat yang membuat Realme menempati peringkat lima.

"Hal ini memberikan keunggulan dibandingkan pesaingnya dalam kisaran harga yang sama," ujar Risky.

Berbeda dengan laporan IDC, Canalys justru mencatat Oppo sebagai penguasa pengapalan ponsel pintar Indonesia pada kuartal kedua 2019. Canalys mencatat Oppo mengantongi pangsa pasar 26 persen dan berhasil menyalip posisi Samsung yang memiliki pangsa pasar 24 persen.

Pada posisi ketiga ada Xiaomi dengan angka 19 persen, diikuti oleh Vivo dengan angka 15 persen. Realme tercatat memiliki pangsa pasar tujuh persen.

Merespons laporan Canalys, Samsung kemudian mengklaim balik masih menjadi penguasa pasar ponsel pintar Indonesia pada kuartal kedua sebesar 50 persen dengan mengutip laporan GfK. Sekedar informasi, GfK merilis data berdasarkan angka penjualan ponsel sementara IDC dan Canalys mencatat berdasatkan angka pengapalan ponsel.

[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)