Direktur eksekutif SAFEnet mengatakan blokir internet saat Arab Spring saat itu bertujuan untuk menjaga situasi agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
"Iya ini [pemblokiran internet] sudah jadi tren ya, sebetulnya dari 2011, dari zaman Arab Spring pemerintah Mesir mematikan [internet] selama beberapa hari. Internet tidak bisa digunakan tujuannya untuk menjaga situasi agar tidak tercipta kerusuhan," ujar Damar kepada awak media di kantor LBH Jakarta, Selasa (3/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Damar menjelaskan dulu pemutusan akses internet sementara dilakukan sebagai praktek yang kemudian diformalisasi. Ia mencontohkan India yang kemudian menjadi negara pertama di dunia yang membuat undang-undang terkait pemblokiran internet.
Sejak saat itu, selain India tren memblokir akses internet kemudian juga terjadi di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Damar menyebut Indonesia menjadi negara terakhir yang baru bergabung mempraktekkan 'bungkam' akses internet.
"Menurut saya yang di Papua buruk karena tidak ada kejelasan tentang mekanisme, tidak ada kejelasan tentang kapan akan berakhir membuat banyak orang kelimpungan," ucapnya.
"Tidak bisanya diakses layanan publik, informasi yang berimbang dari media karena semua hanya bersumber pada satu informasi yaitu apa yang ditulis oleh atau yang disampaikan pemerintah," imbuhnya.
Setelah diblokir selama nyaris dua pekan, Menkominfo Rudiantara menyatakan akan membuka kembali akses internet secara bertahap mulai besok, Rabu (4/9). Rudiantara mengatakan malam ini akan melakukan rapat koordinasi untuk membuka akses internet.
"Nah ini sedang kita koordinasikan kabupaten dan kota mana saja. Malam ini mudah-mudahan sudah ada ini (datanya). Sehingga secara bertahap besok sudah bisa dilakukan, diaktifkan kembali layanan datanya di beberapa kabupaten, kota," kata Rudiantara di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/9).
[Gambas:Video CNN] (din/evn)