BPPT Tambah Bahan Semai untuk Maksimalkan Hujan Buatan

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 17/09/2019 11:23 WIB
BPPT Tambah Bahan Semai untuk Maksimalkan Hujan Buatan Kondisi karhutla di Kalimantan. (Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan akan menambahkan penggunaan Kapur Tohor aktif (CaO) sebagai bahan semai untuk meningkatkan efektivitas teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau kerap disebut dengan hujan buatan.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan diperlukan hujan buatan yang lebih besar untuk mengatasi karhutla yang membabat puluhan ribu hektare hutan.

"Kami akan tingkatkan upaya TMC, dengan upaya Kapur Tohor aktif (CaO) sebagai bahan semai, disemai pagi hari untuk meningkatkan kualitas udara yang memudahkan pertumbuhan awan. Setelah awan tumbuh baru disemai dengan NaCl pada siang hingga sore," kata Hammam dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (17/9).


Ia berharap operasi hujan buatan berjalan secara sistemik untuk mengendalikan kandungan air, kelembaban, dan tinggu muka air gambut.

Menurutnya pengendalian tersebut bisa dilakukan melalui sistem informasi, penyebaran sensor IoT, dan integrasi big data lahan gambut.

"Oleh karena itu, keterpaduan kegiatan monitoring kandungan air lahan gambut, pembangunan bendung-bendung di area gambut, serta pengisian atau pembasahan air di lahan gambut baik melalui cara-cara manual seperti dengan pompa maupun cara modifikasi cuaca harus dilakukan secara sistemik," pungkasnya.

Ia menjelaskan jika dilakukan pada saat yang tepat, operasi hujan buatan mampu menghasilkan air dalam jumlah hingga jutaan meter kubik per hari..

Namun hal tersebut masih bergantung pada ketersediaan awan yang menjadi medium bahan semai. Disamping itu ia mengatakan operasi ini tetap harus memerhatikan level air gabut.

Hammam menyinggung untuk upaya optimal BPPT agar diberikan penugasan nasional dan memiliki independensi melakukan operasi TMC yang berkelanjutan.

"Agar operasi TMC dapat dilakukan secara berkelanjutan, kami juga butuh didukung oleh anggaran, peralatan utama yakni pesawat, dan kesiapan sumberdaya manusia, mulai dari perekayasa, peneliti, dan pelitkayasa," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)