Minimalisasi Kesalahan Fatal saat Pecah Ban di Jalan Tol

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Rabu, 18/09/2019 16:41 WIB
Minimalisasi Kesalahan Fatal saat Pecah Ban di Jalan Tol Ilustrasi jalan tol. (Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus pecah ban sebagai penyebab kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di Indonesia. Banyak pengemudi tidak sigap ketika terjebak dalam situasi itu, salah satunya kecelakaan tunggal yang melibatkan Suzuki APV di Tol Jagorawi KM 36 Sentul, Bogor, pada Minggu (15/9) yang menewaskan tiga orang.

Jalan tol yang kondisinya jarang kendaraan memungkinkan pengemudi memacu mobilnya dengan kecepatan di luar batas ketentuan. Dalam kondisi tersebut sangat rentan kecelakaan terutama saat tiba-tiba pecah ban. Umumnya mobil sulit dikendalikan.

Ada beberapa penyebab ban mobil pecah mendadak. Namun paling utama disebabkan karena tekanan udara pada ban yang tidak sesuai.


Tekanan udara pada ban sangat dianjurkan sesuai rekomendasi pabrikan yang bisa dilihat pada sisi pintu pengemudi. Ini erat kaitannya dengan daya cengkeram ban saat mobil melakukan pengereman dan tentunya efisiensi bahan bakar.

Selain itu jika tekanan udara terlalu tinggi atau kurang, hal tersebut bisa menjadi penyebab ban pecah. Tekanan angin yang tidak sesuai bisa merusak struktur ban yang menyentuh aspal. Belum lagi ketika mobil melaju di atas aspal atau beton bersuhu panas cukup tinggi akibat sengat matahari bisa menyebabkan karet ban memuai.

Bukan cuma tekanan angin, menyebabkan ban pecah juga bisa disebabkan oleh muatan yang berlebihan. Kelebihan muatan tentu membuat ban bekerja ekstra di luar kemampuannya. Jika sudah tidak kuat menahan batas berat muatan, ban dapat meletus seketika.

Sebagai antisipasi kelebihan muatan coba pastikan bobot yang dianjurkan untuk mobil kita melalui buku manual. Jika mengacu pada jumlah penumpang, umumnya mobil berukuran sedang seperti hatchback hanya bisa memuat lima penumpang dewasa, sementara minivan maksimal bisa tujuh hingga delapan orang.

Ban pecah juga bisa karena kita terlalu percaya pada tambalan sementara melalui metode tusuk atau biasa disebut tubeless. Perlu dipahami metode seperti ini hanya sementara atau saat kondisi darurat saja.

Model tambalan ini jika dibiarkan sangat riskan bocor kembali. Jika sudah bocor udara perlahan mulai keluar, lalu ban menjadi kempis tanpa disadari. Jika demikian ban tidak lagi mampu mengimbangi bobot kendaraan dan muatannya. Saat itulah kemungkinan ban pecah bisa terjadi.

Penyebab lain dari ban pecah karena ban mobil sering menghantam jalan rusak. Benturan keras antara ban dengan jalan berlubang menyebabkan rajutan kawat baja pada ban rusak bahkan putus. Ban yang rusak jika dipaksakan di tol, kemungkinan pecah ban sangat besar.

Mengutip situs resmi Astra, kondisi itu karena kawat yang melindungi dinding dan tapak ban sudah tidak berfungsi dengan baik. Ban pun akan mudah terkoyak, ditambah lagi tekanan angin tidak sesuai.

GM Sales Admin & Planning Departemen Training and Sales Sumi Rubber Indonesia Dunlop Hendra Himawan mengatakan salah satu penyebab ban pecah karena perilaku.

"Kalau tekanan udara kurang itu ban akan semakin terbeban berat, gesekan semakin besar. Dan biasanya kalau kurang udara yang aus bagian tepinya. Kalau kekerasan (tekanan udara ketinggian) tengahnya yang cepat aus," ucap Hendra.

Antisipasi Pecah Ban di Jalan

Jika mobil mengalami pecah ban, sebaiknya jangan panik. Lakukan berbagai upaya agar mobil dapat dikendalikan dan kemudian menepi.

Pengemudi tidak boleh panik saat ban pecah secara tiba-tiba. Jangan pula melakukan pengereman mendadak yang justru bikin mobil tak terkendali. Perlu dipahami ketika rem diinjak maka bobot mobil akan pindah ke depan dan setir akan sulit dikendalikan terutama pecah ban depan.

Dalam situasi ini sulit bagi pengemudi memprediksi arah gerak mobil. Bahkan jika pengereman terlalu keras dan ada momentum, mobil potensi terpelanting dan kemudian terguling.

Ketika ban pecah, pengemudi harus merasakan posisi ban yang pecah. Jika itu ban depan, kita harus menahan arah kemudi agar tetap lurus lebih kuat karena setir akan tertarik ke arah ban yang pecah. Ingat, jangan lakukan manuver berlebihan seperti membelokkan setir ke arah berlawanan yang malah akan membuat mobil terpelanting dan berpotensi terbalik.

Kalau ban belakang yang pecah relatif lebih mudah karena kontrol tetap ada di ban depan.

Saat sudah mengetahui ban pecah, pengemudi harus segera menurunkan kecepatan. Lepaskan pedal gas dan turunkan gigi secara gradual sambil menahan kemudi agar mobil tidak bergerak liar. Usahakan jangan sampai mobil membuang ke kanan atau kiri.

Kalau kecepatan sudah mulai berkurang, secara perlahan arahkan kendaraan ke bahu jalan, jangan lupa nyalakan lampu sein ke kiri. Setelah berhasil menepi nyalakan hazard buat memberi sinyal ke mobil lain di belakang bahwa mobil sedang bermasalah. (ryh/mik)


BACA JUGA