Jepang dan AS Negosiasi soal Tarif Perdagangan Otomotif

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 20/09/2019 08:15 WIB
Jepang dan AS Negosiasi soal Tarif Perdagangan Otomotif Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat (AS) dan Jepang terus mendalami inti skema awal perdagangan yang telah disepakati beberapa waktu lalu, salah satu poin adalah tidak akan 'perang' tarif baru pada sektor otomotif. Pertemuan membahas perjanjian perdagangan antara AS-Jepang dikabarkan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Hal ini menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (16/9) jika kedua negara telah menyepakati awal perdagangan mengenai tarif dan perdagangan digital, mengutip Reuters, Kamis (19/9).

Kendati demikian dalam pengumuman tersebut Trump tidak membahas tarif impor kendaraan dan suku cadang buatan produsen Jepang yang sebelumnya sebagai bagian dari kesepakatan awal perdagangan. Diberitakan sebelumnya kedua negara bakal berupaya menghindari pengenaan tarif tambahan sebesar 25 persen.


Mengenai kesepakatan itu, Jepang mengkonfirmasi AS tidak akan mengenakan tarif tambahan pada industri otomotif Jepang, menurut Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi, Selasa.

Mengutip Automotive News, AS akan setuju untuk tidak menaikkan tarif pembatasan atau kuota impor mobil Jepang ketika para pemimpin kedua negara itu bertemu pada minggu depan.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyambut baik niat AS. Kabarnya perjanjian itu akan menjadi bagian dari pembahasan antara Trump dan Shinzo Abe pada pekan depan di New York.

Sebelumnya Washington dan Tokyo menyetujui elemen inti dari perjanjian perdagangan yang disepakati bulan lalu. Sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan terbatas, Tokyo akan membuat konsesi impor pertanian dari Amerika Serikat, sementara Washington akan menahan diri untuk tidak menaikkan tarif pada mobil Jepang karena Trump telah mengancam untuk melakukan itu sebelumnya.

Jika AS dapat mencapai kesepakatan perdagangan dengan Jepang diprediksi akan mengurangi gesekan perdagangan antara kedua sekutu di saat Amerika Serikat 'terkunci' dalam perang dagang dengan China. (ryh/mik)