Di negara subtropis Amerika Serikat, istilah Hunter's Moon atau Bulan para Pemburu merupakan pemberian dari suku asli Amerika untuk bulan purnama yang terjadi pada pertengahan Oktober. Menurut almanak petani peristiwa ini atau setelah bulan purnama Harvest Moon (Bulan Panen), seperti ditulis situs NASA.
Hunter's Moon menandakan musim perburuan telah tiba. Biasanya, hewan-hewan seperti rusa dan rubah akan keluar pada malam hari untuk memungut biji-bijian sisa dari musim panen di ladang. Para pemburu akan lebih mudah melihatnya karena kondisi ladang yang sudah terbuka dan dibantu dengan terangnya cahaya Hunter's Moon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Indonesia, sepertinya tidak dikenal istilah semacam itu karena daerah tropis punya pola musim yg berbeda dibandingkan daerah subtropis seperti di Amerika," jelas Rhorom saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Senin (14/10).
Bagi kita yang berada di Bumi dan berada di garis khatulistiwa seperti Indonesia, tampak seolah-olah mahatari Ketika matahari berada tepat di atas kepala saat siang hari. Sehingga, penghuni sekitar ekuator ini bisa menikmati fenomena hari tanpa bayangan.
Di negara subtropis, Hunter's Moon ini menyebabkan bulan akan terlihat begitu besar dan berwarna oranye. Di India bulan ini diinamakan Sgarad Purina. Ini adalah penanda festival panen dan menjadi penanda berakhirnya musim hujan.
Bagi umat Budha bulan ini dinamakan Pavarana. Penanda akhir dari Vassa, masa puasa pendeta Buddha selama tiga bulan. Di Laos, bulan ini menjadi penanda Festival Balap Perahu. Di Sri Lanka, ini adalah waktu festival Kathina dimana orang-orang memberikan sedekah bagi para bhiksu. (ndn/eks)