Menurutnya, kendala yang dihadapi operator yakni kerap 'diperas' oleh pengelola gedung ketika hendak menaruh kabel (ducting) di bawah gedung. Pemilik gedung kerap membebankan biaya kepada operator seluler yang hendak menaruh kabel di bawah gedung.
"Itu kena cas [dikenai biaya] oleh gedung. Operator dianggap sebagai 'fat cat' jadi diperes saja. Kalau tidak kenal sama gedung tidak dikasih (ducting), begitu kenal sekalipun dicas mahal," ucap Rudiantara saat ditemui di rumah dinas di Widya Chandra, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Juamt (18/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Menanti Lima Janji Tercecer Kemenkominfo |
Sementara menurutnya para Pemda menginginkan operator membangun jaringan telekomunikasi di kotanya. Tetapi mereka tidak menyiapkan fasilitas bagi operator menaruh kabel di gedung-gedung.
"Mereka minta saya mendorong operator untuk membangun tapi mereka tidak membangun fasilitas. Saya bilang kalau tidak bangun fasilitas ya buat apa saya suruh operator suruh bangun tempat Anda," ucapnya.
Sebaliknya, hal tersebut justru menjadi nilai tambah bagi pembangun jaringan telekomunikasi di area timur.
Pemda di area Indonesia timur seperti Papua justru lebih kooperatif mendukung pembangunan jaringan telekomunikasi.
"Memfasilitasi karena mereka benar benar ingin sinyal, di beberapa lokasi kota-kota malah kebalik pikirannya," ucapnya. (jnp/evn)