LAPAN: Suhu Panas Kerap Terasa, Bukan Cuaca Ekstrem

CNN Indonesia | Minggu, 27/10/2019 18:17 WIB
LAPAN: Suhu Panas Kerap Terasa, Bukan Cuaca Ekstrem Ilustrasi (CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) mengatakan suhu panas yang tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia, tidak masuk kategori gelombang panas atau cuaca ekstrem.

Menurut Ketua LAPAN Thomas Djamaluddin, suhu panas pada musim pancaroba yang terjadi sekitar bulan Oktober dan April sampai Mei merupakan fenomena alam tahunan yang normal.

"Suhu panas pada musim pancaroba, sekitar bulan Oktober dan April hingga Mei bukan gelombang panas atau cuaca ekstrem. Itu adalah fenomena tahunan yang normal," kata Thomas melalui unggahan di akun Instagram miliknya seperti dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Minggu (27/10).


[Gambas:Instagram]

Lebih lanjut, dia menyebut ada tiga faktor utama terjadinya suhu panas yang cukup tinggi. Pertama, posisi matahari berada di bagian selatan Indonesia.

Oleh sebab itu, wilayah yang berada di selatan khatulistiwa merasakan panas yang tidak biasanya. Selain itu, Thomas menyebut tutupan awan yang masih minim.

Faktor lain yang menambah suhu panas ialah urban head island (pulau panas perkotaan) akibat adanya peningkatan emisi karbon dioksida dari transportasi, industri dan aktivitas rumah tangga.

LAPAN: Suhu Panas Terik Belakangan Bukan Cuaca EkstremFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
"Peningkatan emisi karbon dioksida dari transportasi, industri, dan aktivitas rumah tangga ini menyebabkan karbon dioksida menahan pelepasan panas ke antariksa," pungkas Thomas.

Sebelumnya, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Mimin Saepudin memprediksi suhu panas dengan cuaca cerah tanpa awan akan berlangsung hingga pekan depan.

"Potensi suhu panas di siang hari masih harus diwaspadai hingga sepekan ke depan," kata Miming dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jumat (25/10) lalu.

Hingga pekan depan kata Miming, suhu maksimum dapat mencapat 39 derajat Celcius. BMKG menjelaskan suhu panas ini terjadi karena matahari berada di titik kulminasi tertinggi, tidak ada awan yang menutupi, dan suhu kelembapan yang rendah.

Pada kesempatan yang sama, Sesditjen P2P Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengimbau kepada masyarakat untuk banyak minum air putih dan mengurangi aktivitas di bawah matahari langsung.

"Minum air yang cukup jangan sampai dehidrasi, gunakan pakaian yang nyaman, kurangi aktivitas di bawah matahari atau kenakan pelindung," terang Achmad.

[Gambas:Video CNN]

(din/eks)