Bos Twitter 'Ejek' Logo Baru Facebook

CNN Indonesia | Rabu, 06/11/2019 18:48 WIB
Bos Twitter 'Ejek' Logo Baru Facebook CEO Twitter Jack Dorsey. (CNN).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gesekan antara dua raksasa media sosial dunia, Twitter dan Facebook kembali terjadi. Kali ini, CEO Twitter Jack Dorsey menyindir logo yang baru diluncurkan Facebook melalui cuitan di akun pribadinya.

"Twitter from TWITTER," cuit Dorsey di akun Twitter resmi miliknya @jack, Rabu (6/11).

Cuitan Dorsey tampaknya merujuk pada logo baru perusahaan milik Mark Zuckerberg itu, dari semula 'Facebook' kemudian diubah dengan tipografi yang lebih jelas 'FACEBOOK'. Tujuannya, untuk menonjolkan perbedaan visual antara perusahaan induk dan aplikasi Facebook itu sendiri.


Dikutip dari situs resmi newsroom.fb.com, rancangan logo baru itu dianggap akan lebih mewakili sejumlah layanan aplikasi lain yang dimiliki perusahaan. Chief Marketing Officer Facebook Antonia Lucio menilai pengguna harus tahu perusahaan dari produk yang mereka gunakan selama ini. Layanan utama perusahaan Facebook meliputi aplikasi Facebook, Messenger, Instagram, WhatsApp, Oculus, Workplace, Portal, dan Calibra.

Sindiran Bos Twitter tentu saja tak datang secara tiba-tiba. Sebelumnya, Twitter dan Facebook sempat terlibat ketidaksepahaman terkait iklan politik berbayar di situs media sosial.

Pekan lalu, Twitter menegaskan akan berhenti menerima iklan politik secara global dalam platform-nya. Penghentian tersebut dilakukan untuk menanggapi kekhawatiran atas informasi yang salah dari para politisi di media sosial.

Saat itu, Dorsey menyebutkan rincian penghentian akan diumumkan bulan depan dan diberlakukan mulai 22 November. Dengan kebijakan tersebut, pihaknya akan melarang iklan mengenai pembahasan politik dari para kandidat.
[Gambas:Video CNN]
Dikutip dari AFP, larangan dilakukan karena iklan di internet sangat berpengaruh dan berpotensi membawa risiko signifikan bagi politik di berbagai negara.

Kepala keuangan Twitter Ned Segal mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada prinsip, bukan soal materi.

Kebijakan itu merupakan respons atas kebijakan kontroversial Facebook yang membiarkan politisi untuk bebas 'berkeliaran' dalam iklan politik tanpa pemeriksaan fakta.
(lav)