Tuduh Langgar Aturan, Google Pecat Empat Karyawan

CNN Indonesia | Rabu, 27/11/2019 06:53 WIB
Tuduh Langgar Aturan, Google Pecat Empat Karyawan Ilustrasi Google. (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina).
Jakarta, CNN Indonesia -- Google memecat empat karyawan karena tuduhan melanggar kebijakan keamanan data perusahaan. Perusahaan penyelenggara teknologi asal Amerika Serikat (AS) mengumumkan alasan pemecatan karena karyawan telah melakukan 'pelanggaran yang jelas dan berulang' dari kebijakan keamanan data.

Salah seorang yang dipecat adalah Rebecca Rivers, software engineer yang membuat petisi untuk meminta perusahaan agar tidak bekerja sama dengan pihak imigrasi Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Vox, Rivers membantu mengorganisir petisi terhadap Google yang bekerja sama dengan dua agensi Imigrasi AS. Pencegahan kerja sama yang menjadi tuntutan dalam petisi Rivers adalah kerja sama antara Google dengan Customs and Border Protection (CBP) dan Immigration and Customs Enforcement (ICE).


"Saya bangga dengan apa yang saya lakukan, dan saya percaya setiap orang memiliki hak untuk mengetahui apa pekerjaan mereka digunakan," kata Rivers.


"Alih-alih mendengarkan saya atau ribuan rekan kerja saya, Google telah menghukum saya dengan skors (berujung pada pemecatan)," kata Rivers.

Dilansir dari Venture Beats, kedua instansi merupakan bagian dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. Pada tahun lalu, karyawan Google melakukan protes terhadap praktik perusahaan terkait arbitrase, pelecehan seksual, inisiatif Proyek Maven militer untuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI), dan perlakuan terhadap pengguna LGBT di YouTube.

Rivers diskors oleh Google pada awal bulan ini bersama Laurence Berland. Rivers dan Berland adalah orang yang mengorganisir serikat kerja di Google.

Pemecatan ini dilakukan setelah 200 karyawan Google melakukan protes di kantor pusat Google di San Francisco, AS, untuk menghapus skors Rivers dan Berland. Nahas, Google malah memecat Rivers dan Berland.


Pemecatan Google dinilai merupakan cara perusahaan untuk membungkam pekerja yang tidak setuju dengan kebijakan perusahaan yang berbau kontroversial.

Seorang juru bicara perusahaan menolak menyebutkan nama-nama karyawan yang diberhentikan. Akan tetapi, satu karyawan diskors karena diduga mengakses dan berbagi dokumen internal, dan memantau acara kalender karyawan. (jnp/lav)