Driver Grab Tuli Buktikan Keterbatasan Tak Jadi Penghalang

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 04/12/2019 10:41 WIB
Driver Grab Tuli Buktikan Keterbatasan Tak Jadi Penghalang Ilustrasi Grab Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menyambut Hari Disabilitas Internasional yang diperingati pada 3 Desember 2019, kisah hidup Bonar bisa menjadi inspirasi bagi kita.

Bonar Bangun Simanjuntak merupakan mitra pengemudi Grab dengan kondisi tuli. Namun di tengah keterbatasan yang dimilikinya, Bonar tidak pernah merasa ruang geraknya bersekat. Dia justru rajin beribadah dan semangat bekerja untuk menafkahi istri serta menunjang masa depan anak perempuannya yang berusia 5 tahun.

Bonar adalah teman tuli pertama di Bandung yang menjadi mitra GrabBike. Dengan bergabung bersama Grab, ia ingin mendobrak perspektif bahwa teman tuli bisa produktif, berkarya, dan tidak berbeda dengan mereka yang tidak tuli.

"Saya tidak merasa minder. Saya berani. Saya merasa percaya diri dan merasa kuat," aku lelaki 30 tahun itu menggunakan bahasa isyarat.


Niat teguh Bonar untuk bekerja bagi orang-orang yang dicintainya tak pernah luntur. Dia bekerja setiap hari mulai pukul 4 subuh hingga 10 malam.

"Hasil kerja ini untuk keluarga, menabung, asuransi untuk masa depan anak saya. Saya ingin anak saya kuliah. Jadi saya menabung dari sekarang," ujar Bonar di Bandung, Senin (2/12).

Perjalanan Bonar untuk bisa bekerja ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Sebelumnya, ia harus menunggu beberapa waktu karena berbagai kendala.

"Awalnya saya ditolak empat kali waktu melamar di beberapa tempat. Tapi saya sabar dulu. Kemudian saya terpikir untuk menjadi pengemudi transportasi online dan bikin foto dengan tulisan agar bisa bekerja di Grab. Akhirnya bos Grab dari Jakarta telepon mengabarkan bahwa saya diterima. Seneng banget akhirnya saya diterima," tutur Bonar.

Dia mengaku senang ketika mendengar kabar itu. Setelah lama menganggur, akhirnya dia bisa bekerja lagi. Bonar juga senang karena semakin banyak teman tuli yang mendapatkan kesempatan bekerja di Grab.

Di sisi lain, sebagai teman tuli, dia merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan customer. Dia sudah terbiasa menggunakan fitur berkirim pesan untuk memberitahukan bahwa dirinya tuli sejak awal.

"Biasanya customer ramah ketika tahu saya tuli. Kerja di Grab juga mudah. Ketika sudah sampai di tempat menjemput, saya chat customer. Setelah itu jalan seperti biasa. Kalau mau jalan pintas, mereka bisa tepuk pundak saya, misalnya kalau mau ke kanan tepuk pundak kanan dan sebaliknya," ujarnya.



Meski dihadapkan dengan berbagai kendala dan kekurangan, Bonar selalu menganggap hal itu mudah dan bisa diatasi. Dia pun berharap semakin banyak orang yang belajar tentang tuli.

"Sehingga tahu tuli itu seperti apa, jadi saling mengetahui dan bekerja sama. Saya juga ingin bilang kepada orang-orang, kita harus tahu bahwa tuli dan dengar itu sama-sama berjuang, bekerja."

Dia pun merasa bersyukur karena sekarang Grab sudah bekerja sama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia). "Dengan begitu, teman-teman tuli juga bisa terangkul."

Soal rencana ke depan, Bonar mengaku akan tetap dengan pekerjaannya yang sekarang. "Saya masih akan tetap bekerja di Grab, lagian saya sudah 3 tahun," pungkasnya sambil tertawa. (fef)