Mengenal Fajar, Mitra GrabCar Tuli yang Ulet Bekerja

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 02/12/2019 20:41 WIB
Mengenal Fajar, Mitra GrabCar Tuli yang Ulet Bekerja Fajar Shidiq mitra driver GrabCar di Bandung. (Dok. Grab Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap orang memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk mencapai sesuatu. Motivasi itu yang dipegang Fajar Shiddiq. Teman tuli asal Bandung ini gigih bekerja layaknya orang biasa.

Pria 27 tahun itu tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. Meski tidak bisa mendengar, Fajar tahu dia masih memiliki kemampuan lain agar bisa hidup mandiri. Oleh karena itu, dia selalu berusaha bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan membantu perekonomian orang tuanya.


Fajar adalah salah seorang mitra pengemudi GrabCar di Bandung. Sebelum bergabung dengan Grab, dia pernah bekerja di butik selama satu tahun. Dia bertugas memotong kain. Namun, karena merasa tidak cocok dan penghasilannya kurang, dia memilih berhenti.

Setelah keluar, Fajar mencari pekerjaan di tempat lain namun dia selalu ditolak. Bahkan selama satu tahun dia sempat tidak memiliki pekerjaan.

"Awalnya saya sudah mencari kerja ke banyak tempat, tapi selalu ditolak. Kemudian, waktu itu saya dapat info dari Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) soal kesempatan kerja di Grab. Mereka tahu kemampuan menyetir saya sangat baik," ujar Fajar dengan menggunakan bahasa isyarat.

Fajar pun mendiskusikan hal tersebut dan meminta restu orang tua. Orang tua Fajar mengizinkannya bekerja di Grab dengan satu syarat: hati-hati. Dia pun tidak merasa khawatir bekerja mengemudikan mobil karena sudah terbiasa sejak dulu. Setelah melamar dan 3 bulan menunggu, Fajar resmi menjadi mitra GrabCar pada Juli 2019.

Fajar bersyukur karena disabilitas seperti dirinya diberikan kesempatan bekerja menjadi mitra pengemudi. Setelah bekerja sebagai mitra GrabCar, Fajar mengaku mengalami perubahan, terutama keberanian untuk berkomunikasi.


"Dulu sebelum kerja di Grab, kadang-kadang saya kurang percaya diri. Kalau bertemu orang khawatir salah ngomong, takut salah paham. Tapi setelah masuk Grab, meskipun tuli saya tetap harus berani untuk berkomunikasi. Apalagi saya punya tanggung jawab customer selamat sampai tujuan, jadi saya harus berani," tutur lelaki yang gemar berolahraga ini.

Namun, Fajar sadar akan kemungkinan kesulitan berkomunikasi dengan customer, maka dia selalu memberi tahu penumpangnya, 'Maaf saya enggak bisa dengar. Jadi, kalau mau komunikasi bisa duduk di depan'.

"Saya juga tempel poster (berisi informasi bahwa saya tuli dan informasi lainnya) di mobil supaya customer paham."

Rencana ke depan, Fajar masih akan bekerja sebagai mitra GrabCar. Selain itu, dia berharap semua masyarakat lebih aware dan paham mengenai tuli agar semuanya bisa bekerja sama. "Saya juga berharap pengangguran di Indonesia menurun," ujarnya.


(fef)