Duo Pendiri Google Mundur, Sundar Pichai Jadi CEO Induk Usaha

CNN Indonesia | Rabu, 04/12/2019 10:16 WIB
Duo pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin mundur sebagai direksi perusahaan induk, Alphabet. CEO Google Sundar Pichai akan mengambil alih peran keduanya. CEO Google dan CEO Alphabet Sundar Pichai. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Duo pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin melepaskan jabatan sebagai direksi di perusahaan induk, Alphabet, setelah lebih dari 20 tahun mendirikan Google.

Berdasarkan keterangan tertulis di blog perusahaan pada Selasa (3/12) waktu setempat, Page dan Brin mengundurkan diri masing-masing sebagai CEO dan presiden Alphabet.

Sebagai pengganti, CEO Google Sundar Pichai akan mengambil alih peran kedua pendiri perusahaan tersebut sebagai CEO Alphabet, sembari tetap menjalankan jabatannya saat ini.


Kendati melepas jabatan, Brin dan Page mengatakan mereka akan tetap terlibat aktif sebagai anggota dewan, pemegang saham, dan rekan pendiri. Mereka juga berencana untuk terus melakukan diskusi rutin dengan Pichai.


Kedua pendiri perusahaan yang bermula dari Garasi Menlo Park, Amerika Serikat (AS) itu mengaku akan terus melayani dewan direksi Alphabet. Mereka juga masih mempertahankan kontrol suara atas bisnis, dan mempengaruhi arah Alphabet dengan atau tanpa gelar eksekutif.

"Kami belum pernah memegang peran manajemen ketika kami berpikir ada cara yang lebih baik untuk menjalankan perusahaan. Alphabet dan Google tidak lagi membutuhkan dua CEO dan seorang Presiden," ungkapnya seperti dikutip dari CNN, Rabu (4/12).

Sundar Pichai yang dikenal karena bakat teknik dan kemampuan manajerialnya, menjabat sebagai CEO Google pada 2015, sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan yang lebih luas untuk menciptakan Alphabet.

Sebelumnya, Pichai telah memegang berbagai peran di perusahaan, termasuk menjadi pengawas Chrome, kepala produk Google dan kepala sistem operasi Android.


Di bawah kepemimpinannya, bisnis Google terus berkembang lebih ke perangkat keras dan komputasi awan, meskipun sebagian besar pendapatan perusahaan masih berasal dari iklan.

Perombakan dewan eksekutif terjadi ketika Google menghadapi pengawasan ketat dari pihak terkait. Regulator dan politisi di AS dan Eropa mempertanyakan ukuran perusahaan, praktik perlindungan data pribadi, dan dampak perusahaan terhadap masyarakat. Page yang selama ini menjadi representasi perusahaan kini justru surut dari pandangan publik.

Page absen dari pengumuman pendapatan kuartalan perusahaan. Ia juga tak muncul pada audiensi teknologi besar di Capitol Hill. Pada 2018 lalu, Page dipanggil sebelum Komite Intelijen Senat melakukan penyelidikan global terkait campur tangan Google dalam proses pemilihan umum, namun Page tidak muncul.


Tahun lalu, Bloomberg Businessweek bahkan menerbitkan sebuah artikel berjudul "Di mana di dunia ini Larry Page berada?"

Pada saat yang sama, Google menghadapi ketegangan di internal perusahaan dengan karyawannya sendiri. Pekan lalu, Google memecat beberapa pekerja yang mengkritik perusahaan soal dugaan melanggar kebijakan keamanan datanya. Beberapa karyawan menilai Google berusaha menekan kritik mereka, bahkan menghambat upaya pekerja untuk berorganisasi.

(lav/lav)