Gara-gara Bank, Indonesia Terbesar ke-3 Terima Spam di Dunia

CNN Indonesia | Selasa, 10/12/2019 19:01 WIB
Gara-gara Bank, Indonesia Terbesar ke-3 Terima Spam di Dunia Ilustrasi penipuan pakai spam. (Istockphoto/ South_agency)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia masuk ke posisi ke-3 sebagai negara yang paling banyak menerima panggilan spam di dunia tahun 2019. Director of Communications Truecaller, Kim Fai Kok, mengakui posisi tersebut cukup mengejutkan. Pasalnya, pada tahun 2018, Indonesia masih berada di peringkat ke-16.

"Indonesia merupakan negara yang paling banyak menerima spam di Asia Tenggara, dengan jumlah panggilan spam sebesar 27,9 setiap bulannya," kata Kim dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (10/12).

Menurut Kim, dibanding angka tahun sebelumnya, Indonesia hanya menerima 8,5 panggilan spam per bulan. Sumber spam panggilan paling tinggi tetap dipegang oleh Bank dan broker asuransi.


"Telepon dari bank, layanan finansial, dan broker asuransi merupakan sumber spam terbesar, berkontribusi sekitar 64 persen dari semua panggilan spam," kata Kim.


Kim menambahkan yang lebih mengkhawatirkan, jumlah penipuan (scam) lewat telepon meningkat dua kali lipat sejak tahun lalu.

"Meningkat dari 10 persen menjadi 21 persen, ini berarti 1 dari 5 panggilan spam merupakan penipuan," tambah Kim.

Selain itu, laporan ini juga menemukan fakta baru terkait adanya beberapa kerusuhan dan peristiwa demo di Indonesia. Menurut Kim, banyak penipu yang memanfaatkan momen-momen ketidakpastian tersebut untuk menipu masyarakat umum.

Salah satu penipuan yang kerap terjadi belakangan ini adalah telepon palsu dari rumah sakit, dimana mereka memberitahu Anda bahwa ada anggota keluarga atau teman yang masuk ke rumah sakit dan membutuhkan perawatan medis segera.

"Lalu, Anda akan dimintai uang untuk membayar perawatan tersebut," ungkap Kim.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, ada pula penipuan 'wangiri' atau 'one ring' yang umum terjadi di Indonesia. Penipu akan mencoba meninggalkan panggilan tidak terjawab (missed call) berulang kali dari nomor telepon internasional ke ponsel korban.

Jika korban menelepon balik nomor tersebut, mereka akan dialihkan ke layanan tarif premium yang mahal, dimana penipu akan mendapat keuntungan dari tarif tersebut.

Truecaller Insights Report 2019 juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-10 sebagai negara penerima SMS spam terbanyak di dunia.

Rata-rata, satu orang Indonesia menerima 46 SMS spam setiap bulan. Tiga negara dengan jumlah SMS spam terbanyak di dunia semuanya berasal dari Benua Afrika, yaitu Ethiopia (119), Afrika Selatan (114), dan Kenya (102).


Untuk ukuran dunia, posisi Indonesia berada di bawah Brazil (45,6 persen) dan Peru (30,9 persen) sebagai negara paling banyak menerima panggilan spam.

Sementara itu, Malaysia adalah negara penerima spam terbanyak kedua di Asia Tenggara. Malaysia menempati posisi ke-19 untuk penerima panggilan spam dan posisi ke-15 untuk penerima SMS spam terbanyak di dunia.

Dibandingkan dengan Indonesia, orang Malaysia rata-rata hanya menerima 8,3 panggilan spam dan 24 SMS spam setiap bulan. Namun, laporan Truecaller mengungkapkan bahwa Malaysia mencatatkan persentase panggilan penipuan tertinggi di dunia.

Sekitar 63 persen panggilan spam di Malaysia bersifat penipuan, sebagian besar terkait dengan asuransi palsu dan panggilan penagih utang. Negara-negara lain yang paling banyak menerima panggilan scam adalah Australia (60 persen), Lebanon (49 persen), dan Kanada (48 persen).

"Seperti yang terlihat dalam laporan kami dari tahun ke tahun, angka penipuan melalui telepon maupun SMS terus meningkat secara signifikan di Indonesia," kata Kim.


Saat ini, ponsel memang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kegiatan sehari-hari, namun oknum yang tidak bertanggung jawab justru menggunakan kesempatan ini untuk melakukan penipuan dengan mengelabui masyarakat umum.

Truecaller, imbuh Kim, mengaku sudah bisa membantu lebih dari 420.000 pengguna aktif harian di Indonesia untuk melindungi mereka dari panggilan scam.

Di tahun 2019, Truecaller telah membantu memblokir dan mengidentifikasi 26 miliar panggilan spam, yang menunjukkan peningkatan 18% dibandingkan tahun lalu. Truecaller juga membantu mengidentifikasi 116 miliar panggilan tidak dikenal dan 8,6 miliar SMS spam secara global.

Kim menyarankan untuk melindungi ponsel dengan aplikasi pengamanan seperti Truecaller, yang dapat mendeteksi panggilan yang tidak diinginkan, telemarketer, spam, atau bahkan kemungkinan penipuan.

Truecaller Insights Report 2019 dikompilasikan secara anonim dari panggilan masuk yang ditandai sebagai spam oleh pengguna, atau secara otomatis ditandai oleh Truecaller selama periode 1 Januari 2019 hingga 30 Oktober 2019, untuk memahami tingkat spam rata-rata bulanan.

(dal/DAL)