LIPI Ungkap Faktor Ular Bermunculan Saat Banjir Jakarta

eks, CNN Indonesia | Kamis, 02/01/2020 17:48 WIB
LIPI Ungkap Faktor Ular Bermunculan Saat Banjir Jakarta Temuan ular piton saat banjir terjang Jakarta, Rabu (1/1) (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ahli herpetologi LIPI beri penjelasan mengapa banyak ular yang ditemukan saat banjir menerjang Jakarta, Rabu (1/1). Hal ini diungkap menanggapi banyaknya temuan ular oleh warga saat banjir menggenang.

Sebagian besar ular temuan ular yang dilaporkan warganet adalah jenis piton. Meski beberapa ada juga yang menemukan ular kobra, Cylindrophis ruffus atau ular kepala dua, dan ular kadut yang memang tergolong ular air.

"Ular kan memang bernapas dengan paru-paru, jadi ketika banjir, dia pasti naik ke atas, mencari tempat yang lebih tinggi," tutur Ahli Hepertologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidy saat dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis (2/1).
Seperti manusia, ular-ular ini pun mencari tempat yang tidak terkena banjir. Sehingga mereka kerap menyelamatkan diri ke rumah atau bangunan lain, seperti ditulis Universitas Wisconsin, Amerika Serikat.


Menurut Amir ular-ular ini berpotensi berasal dari wilayah Jakarta. Sebab, menurutnya ular piton memang bisa hidup di wilayah perkotaan. Hal ini diutarakan Amir ketika ditanya apakah ular-ular ini memang berasal dari habitat asli atau ular peliharaan.

"Populasi ular ada di sekitar Jabodetabek, tapi ukurannya biasanya enggak besar. Bahkan di kota-kota seperti Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura pun masih ditemukan," tuturnya lagi.

Menurut Amir, ular mampu beradaptasi dengan habitat manusia. Sehingga sangat mungkin ular hidup di perkotaan. Namun, biasanya ukuran ular itu tidak akan terlalu besar.

Habitat alami ular-ular ini menurutnya biasa ditemukan pada pohon besar, lubang-lubang pohon, daerah dengan banyak pohon atau sekitar pohon bambu.

[Gambas:Video CNN]


Kemampuan ular hidup di kota besar ini menurut Amir didukung dengan ketersediaan makanan yang banyak yaitu tikus. Sehingga, ular-ular ini menurutnya juga kerap ditemukan di gorong-gorong.

Dari identifikasi foto dan video yang disebarkan di internet, menurut Amir sebagian ular piton yang ditemukan bisa jadi adalah ular peliharaan. Hal ini ia identifikasi dari pola batik yang tampak dari ular tersebut.

"Kalau warna sudah morfosis (berbeda) yang ditemukan saat banjir pasti ular (piton) peliharaan yang lepas," jelasnya.

Namun, ular-ular piton dengan pola batik alami menurutnya bisa jadi dari lingkungan sekitar atau ular dari hulu yang terbawa banjir. Sebab, ular piton dengan motif morfosis yang berbeda dengan motif alami memang tengah digandrungi peminat ular.

Ular piton sendiri menurutnya bisa membahayakan manusia jika sudah punya panjang di atas 5,2 meter. Sebab, ular sebesar ini bisa membelit dan memakan manusia.

"Tapi itupun di jawa sudah jarang. Di alam ukuran 5 meter ke atas uda jarang."

Sebab menurutnya butuh waktu lama bagi ular untuk mencapai ukuran demikian besar. Untuk mencapai ukuran 7 meter saja menurut Amir butuh waktu puluhan tahun.

Saat ini ular piton dengan ukuran 3-4 meter masih tumbuh eksponensial (terus naik). Namun, pertumbuhan ular di atas 5-6 meter sudah landai alias populasinya cenderung tetap. Sementara ular hingga panjang 8,5 meter sudah sangat jarang di alam. Pemelihara ular sendiri bisa menyimpan ular-ular ini hingga 9-10 meter. (eks)