UPC: Banjir Jakarta Karena Depok-Bogor Gagal Tahan Luapan Air

CNN Indonesia | Kamis, 02/01/2020 21:19 WIB
UPC: Banjir Jakarta Karena Depok-Bogor Gagal Tahan Luapan Air Ilustrasi banjir di Jakarta. (Istockphoto/ Gruizza)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi marjinal perkotaan, Urban Poor Consortium (UPC) menyebut penyebab utama banjir khususnya di Jakarta karena kiriman air dari Bogor dan Depok yang tidak bisa menahan luapan air.

Ditambah lagi, secara geografis, Jakarta termasuk wilayah dataran rendah.

"Menurut kami [UPC] yang paling utama mesti melihat secara geografis, Jakarta memang daerah rendah dan dia dapat kiriman air dari Bogor dan Depok. Jadi, penyebab utama dari kiriman, kalau yang di atas [Bogor dan Depok] tidak bisa menahan air, pasti Jakarta dapat kiriman air," kata Koordinator Advokasi UPC Gugun saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (2/1).


Lebih lanjut menurut Gugun, salah satu faktor utama kenapa waduk di daerah Bogor dan Depok tidak bisa lagi menahan air hujan karena adanya pengalihan fungsi lahan hijau.


Waduk-waduk yang dibangun di Jakarta pun kata Gugun juga beralih fungsi menjadi kawasan komersial.

"Di Depok sendiri, waduk-waduk sudah berubah fungsi menjadi perumahan sehingga air tidak bisa ditampung di sana. Jakarta pun demikian, beberapa waduk dan resapan berubah fungsi yang diperuntukan untuk bisnis," terangnya.

UPC mengambil contoh di Kelapa Gading, Jakarta Utara, jika dilihat dari peta peruntuan lahan, kawasan itu merupakan daerah resapan air hujan lalu berubah menjadi kawasan komersial.



Lalu diperparah dengan pembangunan kawasan bisnis di daerah Senayan, Jakarta Pusat diakomodir oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta di dalam peraturan tata ruang.

"Jadi menurut saya, persoalan ini tidak hanya murni lingkungan tetapi juga political will [keberpihakan] pejabat publik untuk meyasar penguasa tanah yang jumlahnya besar. Pemda harus berani menegakkan pengembalian fungsi lahan untuk resapan," pungkas Gugun.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan salah satu penyebab banjir di awal tahun baru 2020 ini karena kerusakan ekosistem dan ekologi. Selain itu, dia menyebut masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

"Karena ada yang disebabkan kerusakan ekosistem, kerusakan ekologi yang ada. Tapi juga ada yang memang karena kesalahan kita yang membuang sampah di mana-mana. Banyak hal," kata Jokowi di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Berdasarkan pantauan BNPB, tercatat ada 169 titik banjir di seluruh wilayah Jabodetabek dan Banten. Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo memaparkan titik banjir terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat 97 titik, DKI Jakarta 63 titik dan Banten 9 titik.

(din/DAL)