Penjelasan Ilmiah Petir di Puncak Gunung Taal Filipina

CNN Indonesia | Senin, 13/01/2020 19:00 WIB
Penjelasan Ilmiah Petir di Puncak Gunung Taal Filipina Gunung Taal di Filipina erupsi. (AP Photo/Aaron Favila).
Jakarta, CNN Indonesia -- Erupsi Gunung Taal pada Minggu (12/1) di Filipina terjadi bersama dengan sambaran-sambaran petir di puncak gunung. Fenomena alam ini membuat erupsi semakin mengerikan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena tersebut dinamakan sebagai petir vulkanik.

Fenomena ini terjadi karena awan kumulonimbus yang merupakan sarang petir digantikan oleh awan yang disebabkan oleh erupsi. Awan ini merupakan kepulan uap air, debu, abu, uap air dan partikel vulkanik lain yang menyembur ke angkasa.


"Jadi memang itu interaksi awan yang terkondensasi dari partikel letusan. Jadi sangat mungkin terjadi petir," ujar Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra, kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/1).


Lebih lanjut, Agie mengatakan mekanisme antara petir biasa dan petir vulkanik memiliki sedikit perbedaan. Perbedaannya adalah awan kumulonimbus digantikan oleh kepulan awan akibat erupsi.

"Karena sistem petir itu ada beberapa tipe, interaksi awan ke awan, awan ke daratan dan di dalam awan itu sendiri. Kalau dilihat maka petir vulkanik terjadi antara di dalam awan atau dengan daratan," kata Agie.

Agie menambahkan selain erupsi gunung, awan kumulonimbus dan petir ini juga berbahaya untuk manusia yang ada disekitar daerah tersebut.

BMKG melalui akun resminya di Twitter juga menjelaskan beberapa teori terjadinya petir vulkanik ini.

"Sebagian besar atom-atom yang pada awalnya netral bertemu dengan banyak energi bebas yang hadir disertai suhu sekitar 1500 Kelvin," ujar BMKG.



Energi tersebut cukup untuk melempar keluar elektron yang terikat lemah dari beberapa atom yang mengikat elektron. Pada saat bersamaan, ada atom-atom yang ingin mengambil elektron tersebut.

Proses tersebut menciptakan sejumlah besar ion-ion positif dan ion-ion negatif. Proses selanjutnya adalah muatan ion negatif dan positif tersebut akan terpisah (ionisasi).

"Ketika ion-ion tersebut terpisah dengan jarak yang cukup, muncullah beda potensial listrik yang akan menyebabkan sambaran petir," ujar BMKG.

Teori kedua adalah gunung berapi mengeluarkan partikel abu panas,uap dan gas saat sedang erupsi. Partikel tersebut mula-mula netral, tapi dengan bertabrakan dengan satu sama lain mereka dapat memindahkan muatan satu sama lain dan berubah menjadi massa positif atau negatif.


Ketika partikel debu vulkanik bertabrakan satu sama lain, kemudian terjadi (ionisasi) pemisahan muatan terjadi dengan proses yang disebut aerodynamic sorting.

Pemisahan muatan positif dan negatif terjadi melalui adanya awan vulkanik yang menyebabkan awan tersebut bermuatan positif dan negatif.

"Kemudian pemisahan ini terus berlanjut sampai terlewat batas dan listrik mulai mengalir antar kedua muatan yang berbeda. Sehingga menyebabkan terjadinya petir saat letusan gunung berapi," kata BMKG.

Petir vulkanik ini ramai dibicarakan di berbagai media sosial. Beberapa warganet membagikan foto dan video erupsi yang terlihat menimbulkan petir di puncak Gunung Taal.

(jnp/lav)