Bos Lippo Akui Lewatkan Kesempatan Tanam Modal di Gojek

CNN Indonesia | Kamis, 16/01/2020 13:28 WIB
Bos Lippo Akui Lewatkan Kesempatan Tanam Modal di Gojek Ilustrasi Gojek. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Grup Lippo merupakan salah satu investor utama yang menyuntikkan dana ke Grab sedari awal perusahaan ride-hailing itu mengaspal di Indonesia. Direktur Lippo Group John Riady pun mengakui pihaknya melewatkan berinvestasi ke Gojek.

Hal itu ia ungkapkan merespons pertanyaan soal Lippo Group yang menjadi investor di masa awal Grab berdiri. Padahal saat itu perusahaan ride-hailing lokal, Gojek, juga tengah mencari pendanaan. Kini baik Gojek dan Grab menjadi dua perusahaan transportasi online yang bersaing ketat di Asia Tenggara.

Ketika ditanya apakah ia luput karena tak berinvestasi di Gojek. John pun mengakui hal tersebut.

"Saya harap dahulu bisa melakukan hal yang dengan Gojek [berinvestasi] (Padahal) Waktu itu saya melihat penggalangan dana Gojek [...] dan ya, kami melewatkannya," kata John saat menjadi pembicara di di Indonesia PE-VC Summit 2020 di Hotel Westin, Jakarta Selatan, Rabu (15/1) kemarin.


John pun menceritakan secara singkat kalau saat itu Grab baru merintis di Indonesia. Pihaknya pun menggelontorkan dana US$50 ribu atau sekitar Rp68 juta. Hingga saat ini, Lippo pun masih menjadi salah satu investor dari perusahaan transportasi online asal Singapura itu.

Penggalangan dana secara konsorsium untuk Grab dilakukan Grup Lippo pada 2016. Saat itu grup Lippo memang tengah gencar mengembangkan lini usaha bisnis baru. Misalnya dengan mengembangkan startup di sektor ecommerce lewat Mataharimall. Grab pun digandeng untuk menjadi penyedia layanan kurir untuk Mataharimall.
[Gambas:Video CNN]
Kerja sama semakin berkembang, di mana Grab berkolaborasi dengan dompet digital milik Grup Lippo bernama OVO. Hal ini dilakukan setelah Bank Indonesia (BI) menutup layanan GrabPay pada 16 Oktober 2017 karena belum mengantongi izin untuk menerbitkan uang elektronik.

BI mengharuskan penyelenggara layanan pembayaran digital untuk memiliki badan usaha sendiri yang membidangi finansial. Sehingga, Grab bekerjasama dengan Ovo yang memang terdaftar sebagai perusahaan finansial untuk memenuhi aturan ini.

Aturan ini juga sempat mengganjal Tokopedia dan Bukalapak yang saat itu juga menyediakan layanan dompet digital. Tokopedia akhirnya bekerjasama dengan Ovo dan Bukalapak dengan Dana.

Tahun lalu, Grab mendapatkan suntikan dana dari Softbank Vision Fund sebesar US$1,46 miliar setara Rp20,65 triliun lewat pendanaan seri H. Dengan tambahan dana itu, maka Grab telah menerima total pendanaan seri H senilai lebih dari US$4,5 miliar setara Rp63,65 triliun.

Perusahaan dengan status decacorn pertama di Asia Tenggara ini akan menggunakan pendanaan tersebut untuk mempercepat perluasan bisnis GrabFood dan GrabExpress. Selain itu, dana tersebut bakal digunakan untuk menjalankan layanan bisnis baru di Indonesia. (din/eks)