BMKG Akui Prediksi Cuaca Tak 100 Persen Akurat

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 09:22 WIB
BMKG Akui Prediksi Cuaca Tak 100 Persen Akurat Ilustrasi. BMKG mengakui prediksi cuaca pihaknya memang tak 100 persen akurat. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Akurasi prediksi cuaca di Indonesia menjadi pembicaraan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  dianggap sering meleset memperkirakan curah hujan. Warganet di Twitter bahkan sudah skeptis terhadap prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG.

Kerap melesetnya perkiraan cuaca BMKG ini kerap menjadi pembicaraan. Banyak cuitan warganet yang meragukan ketepatan ramalan cuaca BMKG. Ia mengaku terus memerhatikan prakiraan-prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG. Prakiraan tersebut tidak akurat.




[Gambas:Video CNN]



Menanggapi skeptisisme tersebut, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengakui kalau prakiraan BMKG memang tidak 100 persen akurat.

"BMKG mampu memberikan presisi sampai 3 km persegi (tingkat Kecamatan) dengan akurasi 80 sampai dengan 85 persen dalam waktu tiga hari sampai tiga jam sebelum kejadian," ujar Dwikorita kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/1).

BMKG mengakui prakiraan cuaca di Indonesia tidak mudah. Pasalnya Indonesia sebagai negara ekuator memiliki kerumitan dan ketidakpastian dibandingkan negara-negara yang jauh dari ekuator. Fenomena atmosfer dan cuaca di Indonesia, disebut Dwikorita sangat rumit.

"Kompleksitas ini makin meningkat dan tidak pasti karena Indonesia adalah negara kepulauan lautan lebih luas dari daratannya dan diapit oleh dua samudera terbesar di dunia yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]

Dwikorita mengatakan dalam melakukan prakiraan cuaca tak hanya menggunakan permodelan prediksi hujan Global Forecast System (GFS) yang diproduksi Pusat Nasional untuk Prediksi Lingkungan (NCEP) Amerika Serikat.

"Hasil pemodelan dari GFC  dianalisis atau dimodelkan lanjut dengan menggunakan data-data obsevasi oleh BMKG dari Satelit Himawari dan Radar Cuaca [40 Radar Cuaca]," kata Dwikorita. 

Dwikorita mengadakan prediksi GFC makin tidak akurat kalau dipakai untuk memprediksi potensi hujan ekstrim seminggu atau sepuluh hari sebelumnya.

BMKG sendiri pada awal Desember 2019  sudah mengeluarkan peringatan dini bahwa intensitas hujan akan meningkat pada Januari 2020 dan puncak musim hujannya diprediksi terjadi pada Februari sampai Maret 2020. 

"Sebaliknya, BMKG telah mampu memprediksi potensi  hujan ekstrim tersebut 30 hari sebelumnya," katanya. 

Dwikorita mengatakan GFC memiliki kelemahan untuk memprediksi kawasan kepulauan Indonesia. Kelemahan pemodelan prediksi cuaca secara global seperti GFC adalah di tingkat resolusinya yang kasar atau tidak presisi.

Dwikorita menjelaskan kesulitan prediksi cuaca di wilayah kepulauan Indonesia ini bisa disiasati dengan integrasi antara prediksi cuaca dan prediksi iklim. Integrasi lanjutan juga dilakukan dengan hasil observasi data satelit setiap 10 menit dan data radar secara real time. 

"Seluruh langkah tersebut harus selalu diperbarui setiap hari tiap tiga jam. Apabila terdeteksi gejala ekstrim maka proses pemutakhiran prediksi harus tiap jam hingga tiap 10 menit. Menyesuaikan perkembangan potensi kondisi ekstrim," ujar Dwikorita. (jnp/eks)