BMKG: Sarmi dan Jayapura Punya Sejarah Gempa Kuat

CNN Indonesia | Senin, 20/01/2020 18:46 WIB
BMKG: Sarmi dan Jayapura Punya Sejarah Gempa Kuat Ilustrasi. BMKG menyebut ada sejarah panjang gempa kuat di kawasan Sarmi dan Jayapura, Papua.(ANTARA FOTO/Bpbd Bali)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan wilayah Kabupaten Sarmi dan Jayapura di Papua dikenal memiliki sejarah panjang gempa kuat dan merusak di masa lalu.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG, Dayono mengatakan kedua wilayah ini secara tektonik merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks. Sebelumnya, gempa mengguncang Kabupaten Jayapura dan Sarmi, Papua, dengan magnitudo 5,2 dan 6,2, Minggu (19/1).

Daryono mengatakan kawasan itu disebut seismik aktif karena kedua wilayah memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang sangat tinggi. Disebut kompleks karena banyak sebaran sumber gempa utama dengan berbagai segmentasi sesar dan splay (percabangannya).

"Karena kondisi tektonik yang aktif inilah maka wajar jika wilayah Sarmi dan Jayapura menjadi kawasan yang sangat rawan gempa dan paling aktif aktivitas kegempaannya di Papua," kata Daryono.


Wilayah Kabupaten Sarmi dan Jayapura dikenal memiliki sejarah panjang gempa kuat dan merusak di masa lalu. Tercatat dalam katalog gempa terdapat lebih dari 20 aktivitas gempa berkekuatan besar yang berdampak mencapai skala intensitas VI hingga IX Modified Mercally Intensity (MMI).

Dampak gempa dalam skala intensitas MMI menunjukkan rata-rata bangunan tembok sederhana mengalami kerusakan ringan pada skala intensitas VI MMI, sedangkan pada skala intensitas VIII dapat memicu kerusakan sedang hingga berat.

Daryono mengatakan sejak 1921, tercatat ada 20 gempa kuat yang mengguncang Sarmi dan Jayapura. Gempa terkuat terjadi pada 10 Januari 1971 dengan kekuatan M 7,7, kedua terkuat terjadi pada 26 Oktober 1926 dengan kekuatan M7,6. 

Beberapa gempa bumi kuat di Papua, antara lain di Sarmi pada 19 Februari 1921 berkekuatan M 6,9, pada 1923, 1926, 1930, serta sejumlah gempa dengan kekuatan signifikan lainnya di wilayah tersebut pada tahun-tahun lainnya.

Pada 6 April 2013 tercatat gempa Talikora berkekuatan M 7,0 berdampak VII-VIII MMI. Gempa Sarmi pada 27 Juli 2015 berkekuatan M 7,0 berdampak VI MMI dan gempa Sarmi pada 20 Juni 2019 berkekuatan M 6,3 berdampak IV MMI.

"Tingginya potensi gempa bumi di Sarmi dan Jayapura tidak perlu membuat masyarakat khawatir berlebihan. Semua informasi terkait potensi gempa di wilayah ini harus direspons dengan langkah nyata dengan upaya memperkuat mitigasi guna meminimalkan dampak gempa bumi," kata Daryono.

[Gambas:Video CNN]

Sesar aktif

Daryono menjelaskan dalam buku  Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), wilayah Kabupaten Sarmi dan Jayapura dilalui oleh struktur sesar aktif, yaitu Sesar Anjak Mamberamo dengan magnitudo tertarget mencapai M 7,5.

"Para pakar asing terkadang menyebut zona sumber gempa aktif ini sebagai Mamberamo Deformation Zone (MDZ) atau Mamberamo Thrust and Fold Belt (MTFB)," kata Daryono.

Daryono mencatat sebelum terjadi gempa di Jayapura & Sarmi pada hari Minggu (19/1), pada 2019 lalu wilayah Sarmi juga sudah diguncang dua kali gempa kuat yaitu pada 20 Juni 2019 M 6,3 dan 24 Juni 2019 M 6,1.

Dalam katalog gempa, tercatat lebih dari 20 aktivitas gempa berkekuatan besar yang berdampak mencapai skala intensitas VI hingga IX MMI (Modified Mercally Intensity) di kawasan itu.

"Dampak gempa dalam skala intensitas MMI, menunjukkan rata-rata bangunan tembok sederhana mengalami kerusakan ringan pada skala intensitas VI MMI. Sedangkan pada skala intensitas VIII dapat memicu kerusakan sedang hingga berat," katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/1).

Daryono mengatakan lokasi-lokasi episenter gempa yang terjadi pada Minggu (19/1) sangat berdekatan dengan lokasi episenter gempa 26 Oktober 1926 M 7,6 dan Gempa 28 Mei 1968 M 7,5.

"Tampaknya ketiga gempa signifikan ini memang dipicu oleh sumber gempa yang sama, yaitu Sesar Anjak Mamberamo," kata Daryono.

(jnp/eks)