Masa Depan Pembayaran Digital yang Masih Ditakuti Warga RI

CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 03:13 WIB
Pembayaran elektronik atau digital setiap tahunnya diklaim semakin berkembang karena diiringi dengan infrastruktur yang lebih baik. Ilustrasi pembayaran digital. (CNN Indonesia/Eka Santhika Parwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO dan co-Founder DANA, Vincent Iswara menilai layanan pembayaran elektronik atau digital tahun ini akan semakin berkembang karena diiringi dengan infrastruktur yang lebih baik dibanding sebelumnya.

Vincent pun melihat saat ini masyarakat yang memanfaatkan layanan digital payment lebih banyak dibanding konvensional (contohnya menggunakan pembayaran lewat kartu kredit maupun debit).

"Kalau saya lihat, industri teknologi finansial di Indonesia akan semakin berkembang. Selain itu, selama dua tahun terakhir ini dibandingkan dengan kartu, pengguna digital payment sudah melebihi kartu dari segi transaksinya," tuturnya saat acara Pencapaian Bisnis DANA tahun 2019 di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (28/1).


Meski begitu, metode pembayaran digital masih dianggap 'tabu' karena sebagian masyarakat masih khawatir apakah layanan aman atau tidak.


DANA menilai sebetulnya melakukan transaksi melalui digital payment lebih aman dibanding tradisional karena sudah disokong dengan teknologi enkripsi data.

"Dengan digital data lebih terproteksi karena sudah dienkripsi, environment [lingkungan] lebih terjaga. Justru kalau tidak digital, lebih mudah untuk datanya diambil karena tercatat dimana-mana," pungkas Vincent.

Senada dengan Vincent, sebelumnya Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardy Sutedja mengungkapkan penggunaan uang elektronik atau dompet digital disebut lebih aman dibandingkan uang tunai. 

[Gambas:Video CNN]

Menurut Ardy, dompet digital yang saat ini banyak dipakai sudah dilengkapi dengan sistem perlindungan keamanan berlapis seperti password dan kode One-Time Password (OTP).

"Justru lebih aman. Karena kalau terkena penipuan dapat di-trace log atau catatan transaksinya sehingga akan mempermudah proses penyidikan dan forensik digitalnya. Namun yang terkena adalah uang tunai maka akan lebih sulit dilacak siapa pelaku penipuannya," ujar Ardy melalui keterangannya, Senin (30/12).

Ardy melanjutkan, justru yang sering terjadi sebenarnya bukan peretasan aplikasi, tapi penipu memanipulasi korban untuk memberikan kode OTP dengan berbagai cara.

Kode OTP atau One-Time Password adalah kode verifikasi atau kata sandi sekali pakai yang terdiri atas 6 digit karakter unik dan rahasia. Kode OTP atau kata sandi yang seringkali berupa serangkaian angka itu umumnya dikirimkan melalui SMS, e-mail, atau telepon.


Tak Ada Strategi Khusus Hadapi Kompetitor

Vincent lebih lanjut mengatakan pihaknya tidak punya strategi khusus untuk menghadapi maraknya pemain pembayaran digital besutan Tanah Air maupun dari luar negeri.

"Tidak ada strategi khusus, kita fokus ke masyarakat Indonesia," kata dia.

Malah kata Vincent, dengan berdatangannya pemain digital payment dari luar negeri maupun buatan Indonesia dapat membantu misi pemerintah agar masyarakat mulai beralih ke cashless (pembayaran non tunai).

"Jadi sebenarnya tidak melihat mereka sebagai saingan tapi kita melihat keberadaan mereka membantu digital payment sebagai sebuah masa depan," pungkasnya.

Saat pemaparan pencapaian bisnis DANA hari ini, perusahaan mencatat pengguna yang menggunakan aplikasi mereka mencapai 35 juta dengan transaksi per hari lebih dari 3 juta transaksi sepanjang 2019.


Sebelumnya, situs meta-search iPrice Group dan perusahaan analisis data App Annie mencatat perkembangan aplikasi dompet digital di Indonesia meningkat sekitar 50 persen sejak kuartal keempat tahun 2017 hingga kuartal kedua 2019.

Menurut iPrice, layanan teknologi finansial dianggap dapat memberikan kemudahan untuk bertransaksi baik online maupun offline melalui satu layanan yakni aplikasi e-wallet.

Data menunjukkan ada empat perusahaan berbasis internet pada kuartal kedua 2019, yaitu Gojek, DANA, Paytren, dan DOKU. Faktor lain meningkatnya produk dompet elektronik ini atas dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam upaya meningkatkan perkembangan ekonomi di Indonesia.

Berdasarkan data App Annie di kuartal kedua 2019 merilis 5 aplikasi e-wallet dengan pengguna aktif bulanan terbanyak, yaitu Gopay, OVO, DANA, LinkAja, dan Jenius.

Senada dengan jumlah unduhan aplikasi, App Annie mencatat Gopay pada urutan pertama, OVO pada posisi kedua, diikuti oleh DANA pada peringkat ketiga, LinkAja pada peringkat keempat, dan iSaku urutan kelima.

Selain itu, riset iPrice Group dan App Annie menunjukkan metode pembayaran menggunakan QR Pay paling banyak dipakai di aplikasi dompet digital. Ada 19 aplikasi yang terdaftar menggunakan metode ini sebagai opsi pembayaran.



(din/DAL)