Xiaomi Ungkap Soal Toko Aplikasi China yang Saingi Google

CNN Indonesia | Selasa, 11/02/2020 16:08 WIB
Xiaomi mengungkap soal toko aplikasi besutan empat produsen ponsel China yang disebut bakal saingi Google Play Store. Foto: CNN Indonesia/Mundri Winanto
Jakarta, CNN Indonesia -- Xiaomi membantah toko aplikasi besutan pembuat ponsel China dibuat untuk menyaingi Play Store, toko aplikasi milik Google. Xiaomi mengklaim GDSA (Global Developer Service Alliance) untuk memudahkan pengembang mengunggah aplikasi ke app store Xiaomi, Oppo, dan Vivo.

Hal ini diungkap Xiaomi menanggapi pemberitaan yang menyebut keempat perusahaan ponsel asal China bekerjasama membuat satu toko aplikasi bersama untuk melawan Play Store.

Keempat perusahaan itu disebut tengah membuat platform baru bersama di bawah GDSA yang nanti bisa diakses sejumlah ponsel China.

"Global developer Service Alliance (GDSA) hadir untuk memudahkan para pengembang untuk mengunggah aplikasi ke app stores Xiaomi, OPPO dan Vivo. Kehadiran layanan ini bukan untuk menyaingi Google Play Store," jelas Xiaomi kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/2).


Sebelumnya diberitakan toko aplikasi GDSA ini dibuat atas kesepakatan Huawei, Xiaomi, Oppo dan Vivo. Dengan demikian, aplikasi yang diunggah di toko tersebut bakal bisa diakses sesama ponsel China lain.

Rencananya toko aplikasi ini akan beroperasi di sembilan negara, termasuk Indonesia. Beberapa negara lain yang disasar adalah India, Rusia dan Malaysia.

[Gambas:Video CNN]

Ketika dikonfirmasi, Oppo, Vivo, dan Huawei masih bungkam. Mereka belum berkomentar terkait toko aplikasi gabungan ini.

"Untuk informasi ini, saya update dulu ke tim region dulu," jelas Public Relations Manager Huawei Indonesia Mohamad Ilham Pratama, Selasa (11/2).

Belum ada kepastian kapan sistem buatan GDSA bisa digunakan. Namun beredar kabar bahwa paling cepat meluncur pada Maret 2020.

Selama ini pengguna Android biasanya mengunduh aplikasi mereka di toko aplikasi milik Google, Play Store. Meski demikian, sebenarnya di luaran banyak toko aplikasi lain yang disediakan oleh pihak ketiga.

Namun, keamanan aplikasi Android yang disediakan diragukan. Sebab, beberapa toko kerap menyisipkan malware pada aplikasi yang mereka sediakan.

Dominasi ini dianggap hanya menguntungkan pihak Google. Menurut analisis Sensor Tower, Google secara global meraup pendapatan US$8,8 miliar pada 2019 dari Play Store. (jps/eks)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK