Peneliti Israel Temukan Cara Curi Data lewat Layar Monitor

CNN Indonesia | Rabu, 12/02/2020 19:18 WIB
Peneliti Israel Temukan Cara Curi Data lewat Layar Monitor Ilustrasi. Peneliti Israel temukan cara meretas komputer lewat layar monitor. (Istockphoto/ Dusanpetkovic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti keamanan siber asal Israel menemukan pencurian data bisa dilakukan dengan meretas layar monitor korban. Malware yang ditanam bisa membaca data pada layar komputer berdasarkan perubahan kecerahan layar monitor.

Hal ini diungkap peneliti dari pusat penelitian keamanan siber di Universitas Ben Gurion Israel, Mordechai Guri. Menurutnya, pencurian data bisa dilakukan dengan menanam malware yang bisa membaca perubahan kecerahan dari setiap piksel di layar LCD korban. Sebab, layar LCD ini menyajikan kombinasi warna RGB yang bisa dibaca.

Cara kerja untuk mendeteksi perubahan kecerahan layar ini serupa dengan cara kerja untuk membaca kode morse.

"Dalam modulasi yang diusulkan, komponen warna RGB dari setiap piksel sedikit berubah. Perubahan ini tidak terlihat (oleh mata telanjang), karena relatif kecil dan terjadi dengan cepat, hingga kecepatan refresh layar. Selain itu, perubahan warna keseluruhan gambar pada layar tidak terlihat oleh pengguna," ujar Guri.


Monitor yang diretas dapat diamati dengan menggunakan smartphone, kamera pengintai, atau webcam, di mana foto atau video yang dihasilkan kemudian dapat diekstraksi menggunakan pemrosesan gambar.

Namun, peretasan model ini butuh banyak perencanaan. Sebab, peretasan model ini tidak memanfaatkan kelemahan celah keamanan dari software dan hardware komputer.

Peretasan dengan metode ini punya dua syarat yang sulit dipenuhi oleh para penjahat cyber biasa.

[Gambas:Video CNN]

Pertama, peretas perlu memasang sendiri malware itu di perangkat korban. Cara lain dengan memanipulasi orang lain agar memasangkan malware ini ke perangkat korban, seperti dikutip Extreme Tech

Kedua, peretas harus menemukan cara untuk menyusup ke kamera keamanan atau webcam di dekat PC target untuk merekam data termodulasi. Sebab, peretas butuh akses pada kamera yang menghadap layar monitor korban.

Sebab, kamera ini yang akan merekam atau mengaruskan (stream) pola transmisi monitor. Begitu pola itu diterima, hal ini bisa dikonversi menjadi data yang bermakna, seperti ditulis PCMag

Peretasan yang terbilang kreatif bukan pertama kali terjadi. Tahun 2019, peretas bisa mencuri data hanya berdasarkan suara dari pengetikan pengguna komputer.

Melansir UberGizmo, peneliti dari Universitas Ben-Gurion peretasan lewat kecerahan layar komputer dilakukan dalam beberapa tahap. Pada tahap pertama, para peneliti memasang malware advanced persistent threat (APT) ke komputer korban.

Tahap kedua, memodulasi data yang diambil pada monitor dengan menyandikannya sebagai aliran byte. Peneliti menetapkan nilai "1" untuk tingkat kecerahan tertentu pada monitor dan "0" ke tingkat kecerahan lain.

Tahap ketiga, ketika kecerahan layar berubah dengan cepat, malware akan membaca hal itu sebagai urutan bit pada layar. Terakhir sebuah kamera yang dapat mengambil rekaman pada tampilan komputer target. Teknik pemrosesan gambar dapat digunakan untuk merekonstruksi informasi dari rekaman layar korban. (jps/eks)