Tren Teknologi

Alasan Vendor Ponsel Ramai-ramai Bikin Chipset Sendiri

CNN Indonesia | Sabtu, 22/02/2020 08:40 WIB
Alasan Vendor Ponsel Ramai-ramai Bikin Chipset Sendiri Produsen ponsel dunia ramai-ramai mulai bikin chipset sendiri, ada apa? (CNN Indonesia/Eka Santhika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pabrikan ponsel ramai-ramai membuat chipset mereka sendiri. Samsung, Apple, dan Huawei telah terlebih dulu membuat chipset buatan sendiri. Belakangan vendor ponsel asal China, Xiaomi dan Oppo juga tengah berusaha menggarap chipset buatan sendiri.

Kabar ini membuat Oppo akan menyusul Apple memiliki Bionic, Huawei memiliki Kirin, sementara Samsung memiliki Exynos. Sementara Xiaomi mengembangkan Surge S1 dan Oppo mengembangkan Oppo M1.

Namun, Oppo M1 belum menjadi chipset yang berdiri sendiri. Chipset ini masih digunakan untuk mendukung kinerja chipset utama di smartphone. Nantinya, Oppo M1 yang dikembangkan Oppo ini akan digunakan bersama dengan prosesor anyar milik Qualcomm, Snapdragon 865, untuk ponsel Oppo Find X2

Lantas mengapa vendor ponsel ini berbondong-bondong membuka sektor produksi baru di System on Chip (SoC)?


Pengamat gadget, Lucky Sebastian mengatakan keputusan vendor ponsel untuk membuat chipset sendiri dilakukan agar vendor tidak bergantung dengan pembuat chipset seperti Qualcomm hingga Mediatek. Ketergantungan ini tidak akan membuat vendor ponsel tak memiliki opsi chipset lain apabila tak menemukan kesepakatan dalam proses bisnis.

Contoh nyata adalah polemik ketergantungan ini adalah dalam kasus pemblokiran layanan Google kepada Huawei sebagai buntut perang dagang China-AS. Pemblokiran ini membuat ponsel Huawei tak lagi bisa menggunakan sistem operasi Android, Gmail, hingga Google Playstore.

"Kemudian dengan mendesain sendiri chipsetnya, vendor melepaskan ketergantungan dari penyedia chipset," kata Lucky.

Porsi chipset buatan sendiri makin besar

Dilansir dari Gizmo China, para produsen ponsel yang membuat sendiri chipset mereka memang makin mengurangi ketergantungan dari chipset pihak ketiga.

Samsung bahkan diketahui telah menggunakan chipset Exynos pada 80,4 persen ponsel besutannya di segmen menengah. Secara keseluruhan, chipset Exynos dapat ditemukan di 61,4 persen ponsel Samsung pada kuartal ketiga 2019. Angka ini meningkat dari 64,2 persen pada 2018.

Selain itu, 74,6 persen ponsel yang dikapalkan Huawei pun telah menggunakan Kirin pada Q3 2019. Angka ini meningkat dari 68,7 persen pada Q3 2018.

Peningkatan penggunaan chipset buatan sendiri ini cukup memberi dampak bagi pasar Qualcomm yang dikenal dengan chipset Snapdragon miliknya. Pengapalan Qualcomm turun 16,1 persen pada kuartal tiga 2019.

Huawei melakukan pengurangan besar-besaran penggunaan chipset Qualcomm mereka. Huawei hanya menyematkan Snapdragon pada 8,6 persen di Q3 2019. Padahal pada Q3 2018, 24 persen ponsel besutannya masih menggunakan Snapdragon.

Selain lebih banyak menggunakan chipset buatan sendiri, Huawei pun mengalihkan pembelian chipset ke Mediatek, rival Qualcomm. Ponsel Huwei yang ditenagai Mediatek naik ke angka 16,7 persen pada Q3 2019. Sebelumnya di Q3 2018, hanya 7,3 ponsel Huawei yang menggunakan Mediatek.

Kendati demikian,  Qualcomm, masih memiliki pangsa pasar terbesar di sektor chipset dengan angka 31 persen, Mediatek 21 persen, Samsung Exynos 16 persen, dan Huawei Kirin 14 persen, seperti dilansir GizmoChina.

[Gambas:Video CNN]

Chipset IoT

Lucky pun mengatakan chipset buatan sendiri ini merupakan rencana panjang dari para vendor ponsel. Pasalnya penggunaan chipset tak hanya digunakan untuk ponsel. Tapi juga untuk seluruh perangkat Internet of Thing (IoT). Lucky mengatakan penggunaan chipset punya potensi, sebab perangkat IoT akan terus berkembang ke depan.

"Sebenarnya chipset itu bukan hanya untuk smartphone saja, perkembangannya akan masif, terutama untuk perangkat lain seperti IoT," kata Lucky kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/2).

Lucky mengatakan chipset akan semakin berukuran lebih kecil sehingga bisa dibenamkan ke perangkat smartwatch, kacamata augmented reality (AR) atau virtual reality (VR), peralatan kantor dan rumah tangga yang terhubung dalam IoT.

"Bahkan mungkin dibenamkan dalam tubuh. Jadi ini bisnis yang bernilai jual" kata Lucky. (jnp/eks)