Ada Virus Corona di China, Trenggiling Selamat dari Kepunahan

CNN Indonesia | Jumat, 28/02/2020 05:50 WIB
Ada Virus Corona di China, Trenggiling Selamat dari Kepunahan Ilustrasi trenggiling. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan legislatif China resmi melarang perdagangan satwa liar untuk mencegah penyakit zoonosis dari hewan ke manusia, yakni virus novel corona atau Covid-19.

Pelarangan itu dinilai akan menyelamatkan trenggiling yang diduga sebagai inang perantara Covid-19 dan satwa liar lain dari kepunahan akibat diperdagangkan secara masif di China.

Melansir CBS News, Direktur International Fund for Animal Welfare China Jeff He memuji kebijakan yang diambil oleh pemerintah China tas perdagangan satwa liar. Namun, dia berkata kebijakan itu akan berjalan efektif jika bersifat tetap.


"Saya memuji larangan itu, karena kita melihat bahwa pemerintah China bertekad untuk mengubah tradisi berusia ribuan tahun yang sangat tidak pantas di masyarakat saat ini," kata He.

He menilai pelarangan perdagangan satwa liar adalah langkah konservatif pertama yang penting untuk perlindungan satwa liar di China. Selanjutnya, dia menyerukan adanya revisi yang lebih kuat dan progresif terhadap Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar yang selama ini berlaku di China.


Lebih lanjut, He menilai China telah menyadari dampak negatif yang ditimbulkan dari perdagangan satwa liar, salah satunya wabah Covid-19. Dia menyebut persoalan itu telah mengganggu ekonomi dan masyarakat China.

"Saya benar-benar berpikir pemerintah telah melihat kerugian yang ditimbulkan pada ekonomi nasional dan masyarakat jauh lebih besar daripada manfaat yang dihasilkan oleh bisnis makanan liar," katanya.

International Union for Conservation of Nature (ICUN) menyatakan trenggiling sebagai satwa liar yang terancam punah. Mamalia itu diketahui diperdagangkan karena daging dan sisiknya dipercaya memiliki khasiat medis.

CEO WildAid, Peter Knights menuturkan negara lain diharapkan juga meniru langkah China untuk melarang perdagangan trenggiling. Dia berkata populasi trenggiling akan tetap menurun jika hanya China yang membuat kebijakan tersebut.

"Kami berharap China dapat memimpin dunia dalam melarang pasar-pasar ini secara global," ujar Knights.


Knights menuturkan wabah Covid-19 harus menjadi peringatan bagi manusia untuk meningkatkan pelestarian alam. Sebab, dia berkata eksploitasi alam berlebihan akan berdampak pada perekonomian dan kesehatan.

"Jika kita mengindahkan peringatan itu tidak hanya kita akan melindungi kehidupan manusia, tetapi kita benar-benar bisa menyelamatkan spesies seperti trenggiling," ujarnya.

Sekretaris Jenderal CITES, Ivonne Higuero mengklaim pihaknya sudah melarang perdagangan trenggiling sejak tahun 2016 lewat sebuah konvensi. Sehingga, dia memuji China yang sejalan dengan CITES.

WWF mencatat perdagangan ilegal spesies liar diperkirakan mencapai US$15 miliar per tahun. Pasar terbesar satwa liar adalah Asia yang hingga kini terus berkembang pesat.

[Gambas:Video CNN]

Dia mengatakan larangan konsumsi trenggiling di Tiongkok dapat secara signifikan mengurangi perdagangan internasional dengan menghapus insentif keuangan yang mendorong geng kriminal untuk menyelundupkan makhluk-makhluk itu secara massal.

"Apa yang telah kita lihat adalah bahwa ada banyak perdagangan satwa liar ilegal yang terjadi dengan China sebagai negara tujuan," kata Higuero.

Adapun CEO Wilderness Foundation Afrika Andrew Muir menyatakan Covid-19 tidak akan muncul jika tidak memakan trenggiling atau kelelawar yang diduga sebagai sumber hingga perantara penyakit itu.

"Jika kita tidak makan satwa liar, mereka tidak akan membahayakan kita," kata Muir.

Sedangkan Ketua Kelompok Kerja Pangolin Afrika dan anggota ICUN Ray Jansen menuturkan akan ada potensi trenggiling menjadi sasaran pemusnahan oleh manusia akibat perannya sebagai inang perantara Covid-19 yang telah membunuh lebih dari 2 ribu orang sejak Desember 2019.

"Orang bisa menjadi lebih waspada terhadap trenggiling dan karenanya menjadi lebih peka terhadap konsumsi dan penggunaannya," kata Jansen.

"Tapi di sisi lain mereka juga bisa mulai melihat trenggiling sebagai ancaman, yang akan menempatkannya dalam bahaya," tambahnya.

(jps/DAL)