Telkomsel Incar Infrastruktur Pemerintah Buat Bisnis IoT

CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2020 23:33 WIB
Telkomsel Incar Infrastruktur Pemerintah Buat Bisnis IoT Ilustrasi. (Dok.Telkomsel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Telkomsel mengincar infastruktur pemerintah untuk bekal memperluas bisnis internet of things (IoT) mereka.

GM Fleet Management Telkomsel, Arief Teguh Hermawan menyebut saat ini sudah ada lebih dari satu juta perangkat IoT yang terkoneksi dengan Telkomsel. Menurut Arief, jumlah itu kemungkinan akan meningkat jika operator pelat merah itu berhasil menguasai infrastruktur pemerintah.

Arief mencontohkan segmen infrastrktur pemerintah yang bisa menggunakan IoT adalah listrik dan PDAM. Dia berkata ke depan pengukuran penggunaan listrik hinggga PDAM menggunakan sensor smart meter yang merupakan bagian dari IoT.

"Kalau government (pemerintah) sudah merunut bahwa, SMART meter PLN, smart meter PDAM, sudah harus pakai smart meter dan bagian dari IoT itu sendiri buat Telkomsel bisa sudah puluhan juta dalam 1 atau 2 tahun. Which is buat kami memang itulah route map (peta jalan) kami," jelas Arief dalam acara diskusi IoT, Selasa (10/3).


IoT adalah sistem perangkat komputasi dengan kemampuan identifikasi dan transfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. Sedangkan AI adalah mesin yang diprogram untuk berpikir dan meniru tindakan seperti manusia.

Arief menuturkan IoT secara khusus memiliki potensi membuat ratusan juta perangkat terhubung dengan internet beberapa tahun mendatang. Hal itu terjadi karena IoT akan membuat berbagai hal menjadi efisien.

"Potensi devices yang akan terkoneksi nanti di tahun 2025 dan 2024 itu bisa sampai ratusan juta devices," ujar Arief  dalam diskusi Forum Wartawan Teknologi di Jakarta, Selasa (10/3).

Lebih lanjut, Arief tidak mengelak IoT belum memberi kontribusi yang signifikan bagi keuntungan perusaaan. Saat ini, dia berkata Telkomsel baru mengantongi keuntungan masih di bawah 5 persen dari total keuntungan.

"Itu sebenarnya perjalanan panjang karena pertama dari rasio revenue saja, padahal kita tahu sebenrnya potensinya besar sekali sampai ratusan juta," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Standarisasi Teknologi Informasi Kominfo Andi Faisa Achmad mengaku IoT memiliki potensi yang sangat besar bagi pasar. Berdasarkan data, IoT diprediksi akan memberikan dampak terhadap produktivitas sebesar US$121,4 miliar pada tahun 2025.

Lima perusahaan yang paling mendapat keuntungan pertama dari IoT adalah manufaktur dengan US$34,4 miliar; retail US$24,5 miliar; transportasi US$15,5 miliar; mining US$14,8 miliar; dan pertanian US$11 miliar.

"Jadi bisa dilihat sendiri bahwa pasti jutaan bahkan ratusan juta, untuk Indonesia itu perangkat yang akan terhubung dengan IoT. Jadi potensi pasarnya sangat banyak," ujar Andi.

Di sisi lain, Andi mengaku pemerintah melalui kajian panjang ketika nantinya akan memiilh dan menerakan teknologi yang lahir dari luar negeri, salah satunya 5G. Dia berkata pemerintah tengah melihat penerapan 5G di Thailand.

"Tentunya banyak pertimbangan oleh pemerintah, dan yang paling utama lagi menanyakan ke masyarakat seberapa butuhnya masyarakat dengan kehadiran 5G," ujarnya.

Adapun terkaut dengan IoT, dia berkata pemerintah membutuhkan teknologi tersebut. Namun, dia kembali menegaskan pemerintah masih mengkaji dengan melibatkan operator dan para pakar guna melihat seberapa penting menggunakan teknologi tersebut. (jps/eks)