Ahli soal Rapid Test Jokowi: Jika Agresif, Corona Cepat Turun

CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2020 13:48 WIB
Ahli soal Rapid Test Jokowi: Jika Agresif, Corona Cepat Turun Ilustrasi pencegahan corona. (CNN Indonesia/Thohirin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Utama dari Stemcell and Cancer Institute, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo menyatakan tes massal terhadap virus corona yang menyebabkan Covid-19 dapat menurunkan tingkat penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Menurutnya, pemerintah akan mengetahui secara pasti siapa saja yang harus dikarantina agar penularan tidak meluas.
 
"Karena tujuan tes itu mengenali siapa saja yang terinfeksi. Semakin agresif kita melakukan tes, semakin banyak kita bisa mengkarantina 'paksa' individu yang terinfeksi tersebut di rumah masing-masing," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Kamis (19/3).
 
Ahmad menuturkan karantina terhadap orang yang terinfeksi Covid-19 merupakan langkah yang mesti dilakukan pemerintah. Karantina, kata dia, membuat kasus baru menurun karena virus tidak bisa mencari korban lain.

Lebih lanjut, Ahmad menegaskan tes massal akan membuat orang yang teridentifikasi positif Covid-19 semakin banyak. Akan tetapi, dia mengingatkan tidak semua kasus positif harus masuk ke dalam rumah sakit.
 
Dia berkata kasus positif yang tidak memiliki gejala parah cukup mendapat pemantauan dari fasilitas lokal, yakni Puskesmas seperti di Singapura. Nanti negeri singa itu, faskes lokal menelepon kasus positif sebanyak tiga kali sehari untuk memantau kondisinya.
 
"kalau ternyata kondisi memburuk, Puskesmas lokal bisa menjemput pasien dan mengarahkan ke rumah sakit terdekat yang ada fasilitas khusus. Jadi si pasien tidak menulari yang lain ketika ke RS," ujarnya.
 
"Disini pentingnya melibatkan aset lokal," ujar Ahmad.


[Gambas:Video CNN]
 
Di sisi lain, dia mengingatkan semua pihak untuk kasus positif yang berujung kematian, bukan pada kenaikan jumlah kasus positif. Sebab, dia menyampaikan secara statistik kasus positif yang memerlukan perawatan serius sekitar 15 hingga 20 persen.
 
"Maka assessment itu bisa dilakukan per telpon mengurangi kontak wajah juga kan," ujarnya.
 
Ahmad menambahkan lockdown sebuah negara atau daerah membutuhkan kesiapan, misalnya dari sisi logistik. Jika persiapan tidak matang, dia berkata publik akan panik. Selain itu, dia berkata pemerintah harus memberi jaminan bahwa lokasi yang lockdown memiliki persediaan pokok dan layanan umum.
 
"Idealnya lockdown juga diikuti dengan tes masif untuk memantau apakah lockdown berhasil atau tidak. Tanpa testing, kita juga sulit mengukur indikator keberhasilan penanggulangan wabah," ujar Ahmad.
 
Lebih dari itu, dia kembali mengingatkan pentingnya melibatkan aset komunitas, seperti puskesmas dan dinkes di garda terdepan layanan masyarakat guna memastikan tidak adanya kerumunan.

(jps/DAL)