Peneliti China dan AS Uji Vaksin Corona pada Manusia

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2020 13:16 WIB
Peneliti China dan AS Uji Vaksin Corona pada Manusia Ilustrasi virus corona. (Foto: Dok. CDC/Dr. Fred Murphy via Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para peneliti di Akademi Ilmu Kedokteran Militer China dilaporkan telah menerima persetujuan untuk meluncurkan uji klinis tahap awal dari vaksin virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19. Vaksin yang diklaim potensial menyembuhkan itu diuji pekan ini.

Menurut database registrasi uji klinis di China, tes Fase I akan mengevaluasi keamanan uji coba eksperimental pada manusia. Sebanyak 108 orang yang tidak terinfeksi Covid-19 pada rentang waktu 31 Desember 2019 dan 16 Maret 2020.

Selain Akademi Ilmu Kedokteran Militer China, perusahaan bioteknologi yang terdaftar di Hong Kong, CanSino Biologics juga akan melakukan uji klinis tersebut.


Melansir Clinical Trial Sarena, pejabat Departemen Pendidikan China Lei Chaozi mengatakan bahwa vaksin juga sedang dalam pengujian pada hewan untuk kemudian dievaluasi keamanan dan kemanjurannya. Mereka dijadwalkan mengajukan uji klinis pada akhir bulan depan. Kendati demikian belum bisa dipastikan kapan pemerintah China akan mendistribusikan vaksin tersebut.

Melansir Daily Mail, Ketua peneliti vaksin, Chen Wei mengumumkan Beijing telah memberikan izin untuk memulai tes. Tim peneliti juga telah mempersiapkan produksi vaksin dalam skala besar.

"Vaksin adalah senjata ilmiah terkuat untuk mengakhiri virus corona," kata Chen yang merupakan perwira militer bintang dua di angkatan bersenjata China itu.

"Jika China adalah negara pertama yang menciptakan senjata seperti itu dan memiliki paten sendiri, itu menunjukkan kemajuan ilmu pengetahuan kita dan citra negara," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Rekombinasi vaksin Covid-19 berhasil dikembangkan oleh Chen setelah lebih dari satu bulan penelitian. Chen yang merupakan seorang spesialis terkemuka dalam vaksin rekayasa genetika di China juga diketahui mengembangkan semprotan medis selama wabah SARS pada 2003. Produk itu mencegah sekitar 14 ribu pekerja medis tertular virus.

Chen juga dikenal di negara ini sebagai 'terminator Ebola' karena memimpin tim untuk membuat vaksin melawan penyakit fatal tersebut.

Selain China, Amerika serikat juga tengah melakukan fase I pengujian vaksin mRNA Moderna (mRNA-1273). Sedangkan National Institutes of Health (NIH) sedang melakukan uji coba di bawah aplikasi investigational new drug (IND) sendiri.

Studi Fase I akan melibatkan 45 orang dewasa yang sehat guna mengevaluasi keamanan dan imunogenisitas tingkat dosis mRNA-1273 dosis 25μg, 100μg, 250μg yang diberikan pada jadwal vaksinasi sebanyak dua dosis.

Di satu sisi, sejumlah pakar Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa mereka tidak yakin vaksin benar-benar efektif bekerja dan bisa ditemukan sampai pertengahan tahun depan. Saat ini, mereka dinilai hanya mengambil langkah-langkah pencegahan penyebaran virus. (jps/mik)