Enam Hasil Riset Soal Virus Corona SARS-CoV-2

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2020 10:28 WIB
Enam Hasil Riset Soal Virus Corona SARS-CoV-2 Virus Corona SARS-CoV-2 menjangkiti lebih dari 220 ribu orang di dunia. (Foto: iStockphoto/spawns)
Jakarta, CNN Indonesia -- Virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 terus menyebar ke berbagai negara dan menyebabkan ribuan orang meninggal dunia sejak pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Hubei, China, pada Desember 2019.

Di Indonesia, virus ini menyebabkan 309 orang positif, 25 meninggal dan 15 orang dinyatakan sembuh sampai hari ini Jumat (20/3).
 
Peneliti dari berbagai negara berlomba untuk menemukan vaksin yang ampuh untuk membunuh virus tersebut. Penelitian lain juga dilakukan guna mengungkap sumber, cara penularan, hingga cara mendeteksi virus tersebut.

1. Sumber dari hewan


Saat pertama kali ditemukan, ilmuwan China langsung menyatakan bahwa Covid-19 berasal dari kelelawar. Pasalnya, virus tersebut hanya ditemukan pada kelelawar.
 
Namun para peneliti mengatakan ada perantara virus dari kelelawar ke manusia yang diduga adalah ular dan trenggiling. Warga China diketahui menyukai makanan eksotik seperti kelelawar hingga trenggiling.
 
Peneliti Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra trenggiling merupakan kandidat kuat inang perantara karena Covid-19 pada tubuh hewan mamalia bersisik itu juga dominan. Dia berkata virus corona dari kelelawar mengalami rekombinasi dengan virus corona dari trenggiling yang kemudian bermutasi dan menginfeksi manusia.
 
"Tapi penelitian lebih lanjut perlu dilakukan. Kita perlu tahu riwayat interaksi penderita atau pasien dengan satwa liar," ujar Sugiyono.

2. Bisa hidup pada benda mati

Selanjutnya, laboratorium virologi National Institutes of Health di Amerika Serikat menyatakan Covid-19 dapat hidup hingga tiga hari pada benda berbahan stainless steel dan plastik. Hal itu diketahui setelah tim NIH melakukan uji coba dengan menempatkan virus tersebut di beberapa benda.
 
Hasil peneliti menemukan fakta bahwa bahan yang paling disukai virus corona adalah stainless steel dan plastik, di mana virus infeksi itu masih dapat dikumpulkan setelah tiga hari dan mungkin bertahan sedikit lebih lama.
 
Adapun benda lain seperti tembaga, peneliti menyatakan bertahan dalam waktu empat jam. Sedangkan di udara, penelitian menunjukkan virus corona mampu bertahan selama sekitar tiga jam.
 
3. Masa inkubasi selama 5 hari

Selanjutnya, penelitian dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health memperkirakan periode rata-rata inkubasi Covid-19 selama 5,1 hari. Selain itu, 97,5 persen orang yang mengalami gejala infeksi Covid-19 bisa dinyatakan positif dalam 11,5 hari setelah terpapar.

[Gambas:Video CNN]

4. Orang tanpa gejala bisa menginfeksi orang lain

Sedangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyatakan orang tanpa gejala terinfeksi Covid-19 bisa menginfeksi orang lain. Peneliti LIPI Sugiyono Saputra menyampaikan studi terbaru dari pasien di China menunjukkan bahwa 12,6 persen kasus merupakan transmisi pre-simtomatik.
 
Dia mengatakan transmisi pre-simtomatik adalah penularan dari orang yang membawa virus tapi belum ada gejala, kepada orang sehat yang lain.
 
5. SARS-COV-2 virus alami, bukan buatan laboratorium

Di sisi lain, ilmuwan menyatakan Covid-19 bukan sebuah penyakit yang dibuat di laboratorium atau direkayasa. Menurut temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine, Covid-19 yang muncul di Kota Wuhan merupakan produk evolusi alami.
 
Penulis jurnal Kristian Andersen mengatakan analisis data sequence genome Covid-19 dari orang yang terinfeksi  tidak menemukan bukti bahwa virus itu dibuat di laboratorium atau direkayasa.
 
"Dengan membandingkan data urutan genom yang tersedia untuk strain coronavirus yang diketahui, kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami," kata Andersen.

6. Tes darah buat uji penyebaran Covid-19

Selanjutnya, penelitian dari Fakultas Kedokteran Icahn New York merekomendasikan untuk melakukan tes darah untuk mengetahui berapa luas penyebaran Covid-19 di suatu wilayah.
 
Tes itu dapat menunjukkan apakah sistem kekebalan seseorang pernah mengalami kontak dengan virus corona atau tidak. Tes ini bahkan bisa mendeteksi jejak infeksi, meski seseorang tidak memiliki gejala. Tes Darah adalah opsi deteksi selain metode PCR dan genome sequence. (jps/mik)