Daftar Obat yang Diuji Guna Sembuhkan Pasien Covid-19

CNN Indonesia | Kamis, 26/03/2020 16:10 WIB
Daftar Obat yang Diuji Guna Sembuhkan Pasien Covid-19 Ilustrasi obat-obatan yang tengah diuji untuk sembuhkan penyakit Covid-19. (Pixabay/PublicDomainPictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah negara bagian New York, di Amerika Serikat, menguji empat jenis obat yang siap untuk diberikan kepada pasien Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-COV-2 yaitu Remdesivir, Hydroxycloroquine, dan Chloroquine.

Saat ini tengah dilakukan uji klinis terhadap ketiga obat ini oleh pemerintah negara bagian New York di Amerika Serikat. Pasalnya, jumlah kasus Covid-19 di kota itu terus meningkat.

Badan obat dan makanan (FDA) AS pun mempersilakan pemerintah kota itu untuk melakukan percobaan untuk mencampurkan obat hydroxychloroquine dengan antibiotik Zithromax. Zitromax juga dikenal sebagai Azithromycin.


New York juga menjadi negara bagian pertama yang mencoba menyembuhkan penderita yang sangat parah dengan antibodi. Antibodi ini diekstrak dari plasma orang yang telah sembuh dari penyakit tersebut.

Vaksin Covid-19 saat ini masih dirampungkan oleh para peneliti. Namun, diperkirakan vaksin baru rampung tahun depan. Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin (imunisasi) dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit - penyakit tertentu

Saat ini, pengujian obat dilakukan dengan tiga cara, remdesivir, Hydroxycloroquine, dan Chloroquine. Berikut penjelasan singkat terkait obat Remdesivir, Hydroxycloroquine, dan Chloroquine yang siap diberikan untuk pasien Covid-19:

Obat Remdesivir

Remdesivir bukan obat baru dan diproduksi oleh perusahaan raksasa farmasi Amerika, Gilead Sciences Inc yang sebelumnya dipakai untuk menguji berbagai penyakit seperti Ebola dan SARS.

Saat wabah virus Ebola dan SARS, obat remdesivir sempat diberikan kepada pasien yang terjangkit. Lalu kembali diuji coba kepada pasien Covid-19.

Untuk membunuh virus corona baru (SARS-Cov-2), remdesivir mesti diberikan secara intravena (metode pemberian obat melalui injeksi atau infus). Namun, obat ini belum disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (US Food and Drug Administration/FDA) karena masih bersifat eksperimental.

Nantinya, obat remdesivir bakal menghambat replikasi virus melalui penghentian dini transkripsi RNA dan mengandalkan aktivitas in-vitro (istilah biologi yang dipakai untuk menyebutkan kultur suatu sel, jaringan, atau bagian organ tertentu) untuk melawan virus corona SARS-Cov-2.

Selain itu, remdesivir juga mengandalkan aktivitas in-vivo (mengacu pada eksperimen menggunakan keseluruhan organisme hidup) terhadap virus corona beta.

Menurut Pusat Pencegahan Penyakit dan Pengendalian AS (Centers for Disease and Control Prevention/CDC), ada tiga opsi untuk mendapatkan remdesivir agar bisa digunakan untuk pengobatan pasien positif Covid-19.

Berikut tiga opsi yang dimaksud:

1. Merujuk pada penelitian dari National Institutes of Health (NIH), remdesivir dapat diberikan kepada pasien berusia 18 tahun atau lebih tua dengan saturasi oksigen (presentasi hemoglobin yang berikatan dengan oksigen di dalam arteri) lebih dari 94 persen.

2. Seseorang yang masuk kriteria eksklusi (terdapat keadaan atau penyakit lain yang dapat menganggu pengukuran atau interpretasi) bisa disebut juga penyakit bawaan, seperti alanine aminotransaminase atau aspartate aminotransminase.

Aspartate aminotransminase sendiri merupakan enzim dari golongan transaminase yang sering dikaitkan dengan kinerja organ hati, jantung, otot rangka, dan ginjal.

3. Bukti radiografi pneumonia dengan saturasi oksigen lebih dari 94 dan berpartisipasi dalam uji klinis ventilasi mekanik atau pembersihan kreatinin (membantu untuk memperkirakan laju filtrasi glomerular/laju kecepatan darah yang mengalir ke dalam ginjal).

[Gambas:Video CNN]

Hydroxycloroquine dan Chloroquine

Kedua obat tersebut telah digunakan untuk pengobatan malaria dan kondisi peradangan tertentu seperti lupus.

Menurut situs Badan Kesehatan AS, CDC, hydroxycloroquine dan cloroquine memiliki aktivitas in-vitro terhadap SARS-Cov, SARS-Cov-2 (virus penyebab penyakit Covid-19), dan jenis lain dari virus corona. Khusus hydroxycloroquine, obat ini relatif bekerja lebih baik terhadap virus corona SARS-Cov-2. 

Oleh karena itu, obat hydroxycloroquine bakal menjadi andalan negara-negara yang terjangkit Covid-19. Sebagai contoh, Amerika Serikat.

Gedung Putih telah memberikan lampu hijau kepada Gubernur New York Andrew Cuomo untuk menguji obat hydroxycloroquine, cloroquine serta remdesivir sebagai pengobatan Covid-19.

Namun, Indonesia lebih mengandalkan obat cloroquine. Pemerintah pun sudah memesan tiga juta cloroquine menurut keterangan Presiden Joko Widodo pada 20 Maret lalu dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Kendati demikian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut obat hydroxycloroquine untuk penyakit Malaria belum tentu bisa menyembuhkan pasien Covid-19.

Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian Kimia LIPI, Akhmad Darmawan mengatakan obat hydeoxychloroquine menargetkan parasit penyebab malaria, yakni Plasmodium yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina.
Daftar Obat yang Diuji Guna Sembuhkan Pasien Covid-19Chloroquine dikenal juga sebagai obat kina yang diproduksi Indonesia dan kerap digunakan untuk pengobatan malaria (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

"Namun demikian efektivitas-nya untuk mengobati virus memang perlu kajian lebih jauh dan komprehensif mengingat memang target nya berbeda antara malaria plasmodium dengan virus Covid-19," kata Akhmad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (20/3).

Akhmad kemudian memastikan bahwa kandungan hydeoxychloroquine sama dengan obat chloroquine yang dipesan Jokowi untuk menyembuhkan WNI yang terjangkit corona.

Akhmad mengatakan diperlukan kajian lebih lanjut terkait penggunaan obat malaria untuk mengobati virus corona. Namun ia mengatakan obat tersebut memang digunakan untuk mikroorganisme berupa parasit plasmodium penyebab malaria.

Zithromax (Azithromycin)

Ini adalah antibiotik yang melawan infeksi bakteri termasuk infeksi pernapasan, kulit, telinga, tenggorokan, pneumonia, dan penyakit kelamin menular.

Efek samping penggunaan obat ini serupa dengan hydrocychloroquine. Pengguna azithromycin bisa mengalami jantung berdebar dengan cepat yang bisa membahayakan, terutama pada orang tua.

Efek samping lain kemungkinan menimbulkan masalah hati, alergi, diare, mual, muntah, sakit perut, dan sakit kepala.

Plasma Konvalensi
Daftar Obat yang Diuji Guna Sembuhkan Pasien Covid-19Peneliti juga menguji  menggunakan plasma konvalensi menggunakan antibodi orang yang sudah sembuh dari Covid-19. (iStockphoto/vadimguzhva)

Ini adalah jenis pengobatan lain yang tengah diuji di New York, seperti dijelaskan Andrew Cuomo, Gubernur negara bagian New York. Pengobatan alternatif ini telah mendapat persetujuan FDA.

Pengobatan ini sebetulnya teknik awas yang digunakan untuk mengatasi epidemi flu pada 1918. Teknik ini digunakan sebelum vaksi dan obat antivirus ditemukan.

"Pengobatan ini dilakukan dengan mengambil plasma dari orang yang telah terinfeksi virus. Plasma ini lantas diproses dan disuntukkan ke antibodi dari orang yang sakit," jelas Cuomo, seperti dikutip NBC New York

"Telah ada pengetesan yang menunjukkan orang yang disuntik dengan antobodi ini bisa meningkatkan sistem kekebalan melawan penyakit. Ini hanya percobaan yang dicoba kepada orang yang sedang kritis."

New York Blood Center (NYBC) akan jadi pusat darah pertama yang akan mengumpulkan donasi plasma darah dari mereka yang telah sembuh dari Covid-19. Plasma ini akan digunakan untuk mengobati pasien yang tengah kritis. (din/eks)