Ahli Ungkap Alat yang Lebih Akurat dari Rapid Test ala Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 26/03/2020 18:18 WIB
Ahli Ungkap Alat yang Lebih Akurat dari Rapid Test ala Jokowi Ilustrasi rapid test corona. (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Bio Molekuler (LBM) Eijkman menyarankan tes massal polymerase chain reaction (PCR) atau genome sequencing lebih akurat untuk mendeteksi virus corona SARS-CoV-2 daripada metode rapid test serologi yang sedang dijalankan oleh pemerintah Joko Widodo.

"Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi dan mengandung virus, maka yang paling akurat adalah tes secara molekuler dengan PCR,"  ujar Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).

Herawati menjelaskan rapid test adalah tes berlandaskan antibodi atau biasa disebut uji serologi. Tes ini hanya menggambarkan apakah orang pernah terpapar virus corona. Bukan mendeteksi orang terinfeksi corona atau tidak.


Di sisi lain, Hera mengatakan metode rapid test cocok diterapkan untuk contact tracing. Jenis tracing ini ditujukan untuk memberikan informasi kepada publik yang berpotensi melakukan kontak langsung dengan pasien.

"Tes antibodi massal hanya mengetahui 'pernah kontak' dengan virus. Cocok untuk 'contact tracing'," ujar Hera.

PCR Tidak Efisien Apabila Jumlah Sampel Banyak


Dihubungi terpisah, Peneliti Bidang Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono menjelaskan metode PCR memang akurat, namun prosesnya lama dan tidak efisien apabila jumlah sampel yang harus diuji banyak.

"Metode PCR memang akurat, namun prosesnya lama dan tidak efisien kalau jumlah yang harus diuji banyak. Uji serologi sebetulnya sensitif atau comparable dengan metode PCR dan waktu ujinya sangat singkat hanya 10-15 menit sehingga sangat efisien untuk pengujian skala besar," tutur Sugiyono

Sugyino menjelaskan PCR  yang mengambil sampel dari air liur di tenggorokan, kerongkongan, atau hidung.

Sampel yang akan diuji menggunakan PCR biasanya dari swab saluran pernapasan atau sputum. Berbeda dengan rapid test berlandaskan antibodi yang mengambil sampel dari darah.

"Sampel yang akan diuji menggunakan PCR biasanya dari swab saluran pernapasan atau sputum [dahak]. Sedangkan sampel untuk uji serologi diambil dari darah," ujar Sugiyono.

[Gambas:Video CNN]

Sugiyono mengatakan metode PCR mendeteksi gen penderita, sedangkan metode serologi mendeteksi antibodi penderita yang dibentuk oleh tubuh ketika terjadi infeksi.

Sugiyono menjelaskan PCR merupakan metode tes yang pertama dikembangkan dan sesuai rekomendasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia saat tahap awal wabah corona. Seiring berjalannya waktu, banyak negara mulai menggunakan rapid test berlandaskan antibodi karena keterbatasan tes PCR.

Sugiyono menjelaskan keterbatasan tes PCR ini salah satunya adalah membutuhkan sarana pemeriksaan laboratorium pada biosecurity level II. Sehingga tidak semua rumah sakit atau laboratorium bisa melakukan tes.

Keterbatasan PCR berada di durasi proses tes yang lama, berbeda dengan rapid test yang  hanya memakan waktu 10 hingga 15 menit.

"Setelah itu, mengingat keterbatasan dari pengujian ini, banyak negara seperti Korea Selatan, China, dan Amerika Serikat mengembangkan uji cepat dengan melihat respon imun dari penderita atau ada tidaknya antibodi," kata Sugiyono.

Sugiyono lebih lanjut menjelaskan PCR bisa digunakan untuk tes preventif yang digunakan sejak awal infeksi atau ketika ketika belum ada gejala. Di sisi lain, rapid test serologi membutuhkan waktu tertentu karena bisa jadi antibodi belum cukup terbentuk ketika awal terjadi infeksi.

"Tapi uji serologi bisa menunjukkan hasil positif walaupun penderita sudah sembuh atau ketika virus sudah tidak ada," tutur Sugiyono.



(jnp/DAL)