Hadapi Corona, BPPT Manfaatkan Teknologi Kecerdasan Buatan

BPPT, CNN Indonesia | Jumat, 27/03/2020 17:05 WIB
Saat ini, BPPT tengah mengembangkan Kit Deteksi Corona menggunakan strainvirus yang berasal dari warga Indonesia yang terinfeksi Covid-19. Kepala BBPT Hammam Riza. (Foto: BPPT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ditunjuk oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) sebagai koordinator percepatan pengembangan produk dalam negeri guna mengatasi wabah Covid-19. Kepala BPPT Hammam Riza menyatakan pihaknya siap memulai Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC19) untuk memperkuat aspek lokal.

TRFIC19, kata Hammam, memiliki rencana aksi cepat dengan lima target produk final. Yang pertama adalah Pengembangan Non-PCR Rapid Diagnostic Test. Kedua, Pengembangan PCR Test Kit, Laboratorium Uji PCR dan Sequencing.

Target ketiga, Penguatan Sistem Informasi dan Aplikasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Keempat, Analisis dan Penyusunan Data Whole Genome COVID-19 Origin Orang Indonesia yang terinfeksi, dan kelima, Penyiapan Sarana Prasarana dan Penyediaan Logistik Kesehatan untuk Penguatan Kemampuan Penanganan COVID-19.
Penggunaan strain lokal


Peredaran produk-produk Kit Deteksi Corona dari luar negeri yang akan digunakan untuk mempercepat screening pada PDP dan ODP, menjadi salah satu subtansi yang menjadi perhatian serius TFRIC19.

Hamam mengatakan, Technology Clearing diperlukan untuk memastikan bahwa produk-produk tersebut memenuhi persyaratan teknis dan sesuai dengan kondisi wabah di Indonesia. Ia memandang hal itu sebagai sebuah tantangan agar Indonesia bisa segera menghasilkan Kit Deteksi Corona buatan sendiri.

TRFIC19 disebut tengah mengembangkan Kit Deteksi Corona dengan menggunakan strain virus yang berasal dari orang Indonesia yang terinfeksi Covid-19 dengan status transmisi lokal penyebarannya.

"Virus cenderung cepat bermutasi, hasil mutasi berbeda-beda di setiap negara. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam pengembangan RDT Kit. Selain cepat, RDT Kit juga harus sesuai, sensitif dan spesifik. Rencana aksi pengembangan Kit Deteksi COVID-19 menjadi prioritas pertama untuk segera dilaksanakan," kata Hamam saat press video conference yang digelar Kemenristek/BRIN di Jakarta, Kamis (26/03).
Diagnostic Test Karya Anak Bangsa

Menurut Hamam, saat ini TFRIC19 telah melakukan akselerasi dalam mengembangkan Rapid Diagnostic Test (RDT) Kit, dan memperkuat Laboratorium Uji untuk menganalisis gold standard PCR berbasis data kondisi virus di Indonesia. Kegiatan ini direncanakan akan dilengkapi dengan Whole Genome Sequencing untuk keperluan pembuatan vaksin, deteksi, dan epidemiologi Covid-19.

"Non PCR Diagnostic Test yang akan dikembangkan yaitu Rapid Diagnostic Test berbasis antibodi IgG/IgM (late detection) dan Rapid Diagnostic Test berbasis antigen (early detection), keduanya dikembangkan menggunakan virus yang ada di Indonesia" ungkap Hammam.

"RDT kit yang dikembangkan secara lokal ini sangat penting ya, karena menggunakan sampel-sampel penderita di dalam negeri. Kami kembangkan kit ini dalam bentuk Dip Stick dan Micro-chip,"

Artificial Intelligence untuk Deteksi Covid-19

Lebih lanjut, Hammam merinci bahwa TRFIC19 juga memiliki sub-tim Artificial Intelligence. Secara khusus, tim ini akan mendayagunakan AI dengan model Machine Learning dan teknik terbaru Deep Learning untuk membangun model deteksi dengan validasi dari radiolog dan dokter terkait.

"Riset dan inovasi penanggulangan Covid-19 dengan mengembangkan sistem deteksi dini dan sistem pendukung pengambilan keputusan memanfaatkan teknologi yang dibangun dengan Artificial Intelligence (AI). Berdasarkan data X-Ray dan CT-Scan dari pasien yang positif dan negatif Covid-19, akan dibangun model AI yang selanjutnya dapat digunakan untuk membantu deteksi dini pasien," ujarnya.

"Kami harap sistem yang dikembangkan ini akan melengkapi atau bersifat komplemen terhadap pengujian berbasis PCR, maupun whole genome sequencing Covid-19 Indonesia," kata Hammam.
Ia menegaskan bahwa komitmen, komunikasi, kecepatan dan kesiapan data sebagai landasan utama TFRIC19. BPPT pun terus berkoordinasi secara lintas lembaga dan internal untuk mematangkan langkah operasional pelaksanaan kelima rencana aksi di atas.

"Bersamaan dengan itu, koordinasi untuk mendapatkan penguatan dari Menteri Ristek/Kepala BRIN dan keselarasan program dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 juga terus dilakukan," ucap Hammam.

Disebutkan TRFIC19 terdiri dari berbagai pemangku kepentingan. BPPT didukung oleh sejumlah perwakilan, seperti Institusi Litbang (LIPI, Badan Litbang Kesehatan, Lembaga Biologi Molekular Eijkman), Perguruan Tinggi (ITB, UGM, UNAIR, YARSI, UNHAN, Unika Atma Jaya, UNPAD, UNESA, UNDIP, UNTAG Surabaya, UNISBA), industri (PT Biofarma, PT Hepatika Mataram), rumah sakit (FKUI-RSCM, RSUD Tangerang, RSUD Koja) dan Asosiasi Profesi (PB IDI, PAPDI, IAIS, INAPR, APIC, Asosiasi Bioresiko, Asosiasi Biosafety Indonesia, World Bio Haztec, Healtech.id), sampai start-up Nusantics dan Neurabot Lab.

TFRIC19 juga melibatkan pendanaan dari beberapa pemangku kepentingan, antara lain melalui East Venture, serta asosiasi seperti Indonesia AI Society, IA-ITB, Kagama, IABIE, IATI, KADIN, dan masyarakat luas dalam penggalangan dana. Penggalangan dana diperlukan untuk memenuhi kebutuhan scale up production, melengkapi dana APBN pemerintah yang bersumber dari Kementerian Ristek/BRIN, Litbangkes, BPPT, Eijkman, dan lainnya. (rea)