Inggris Buat Alat Tes Virus Corona Massal dan Murah

CNN Indonesia | Jumat, 27/03/2020 06:29 WIB
Inggris Buat Alat Tes Virus Corona Massal dan Murah Ilustrasi tes corona. (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Inggris telah mengembangkan tes deteksi virus corona (SARS-CoV-2) massal murah dengan menggunakan perangkat yang bisa digenggam seharga US$ 120 atau setara Rp1,9 juta.

Alat yang dikembangkan oleh peneliti dari Brunel University London, Lancaster University dan University of Surrey itu dapat mengeluarkan hasil tes dalam waktu 30 menit. Pengguna juga membutuhkan alat pengambil sampel swab yang dibanderol sekitar US$5 atau sekitar Rp81 ribu.

Alat tersebut beroperasi dengan terhubung ke aplikasi  ponsel pintar untuk menampilkan hasil diagnostik dari hasil sampel lendir hidung atau tenggorokan. Sampel tak perlu lagi dibawa ke laboratorium.


Tes ini berdasarkan teknologi yang ada yang telah digunakan di Filipina untuk menguji penyebaran virus pada ayam. Peneliti telah melakukan adaptasi terhadap alat tersebut untuk mendeteksi corona pada manusia.


Tim peneliti saat ini tengah mendorong produksi massal dari alat tersebut. Alat tes ini di sisi lain akan membutuhkan persetujuan dari badan pengawas kesehatan lokal Food and Drug Administration (FDA).

Peneliti yakin FDA akan menyetujui alat tersebut dan yakin alat tersebut siap digunakan secara massal dalam beberapa minggu.

Sesungguhnya FDA telah menyetujui tes lain dengan menggunakan metode serupa untuk pengujian langsung. Akan tetapi, tes ini membutuhkan meja laboratorium mikro khusus yang mahal.

[Gambas:Video CNN]

Biasanya meja tersebut bisa dipasang di fasilitas perawatan kesehatan khusus. Tes dari ilmuwan Amerika Serikat ini memiliki keuntungan menggunakan 'hardware' murah, dengan kemampuan pengujian hingga enam orang sekaligus, yang dapat digunakan di kantor dokter, rumah sakit dan bahkan tempat kerja hingga rumah.

Dilansir dari TechCrunch, tes ini berdasarkan hasil sampel swab dan bukan tes serologi yang menggunakan sampel darah untuk melihat keberadaan antibodi. Beberapa negara di Uni Eropa, dan Asia, termasuk Indonesia telah menggunakan alat tes serologi ini.

Akan tetapi tes serologi tidak dapat mendeteksi keberadaan DNA virus corona apabila belum ada antibodi yang melawan corona tersebut. Sehingga tes tidak dapat mendeteksi virus yang masih berada di tahap awal.

Di sisi lain, perusahaan Inggris, diaTropix and Mologic bekerja sama dengan institut penelitian asal Senegal untuk menghadirkan tes virus corona dengan harga kurang dari US$1 atau Rp16 ribu.

Dilansir dari Financial Times, alat tes yang bisa dikantungi di saku ini bertujuan untuk menekan penyebaran virus corona di Afrika.

(jps)