PVMBG Minta Ahli Tak Asumsi Tanpa Data Soal Misteri Dentuman

CNN Indonesia | Senin, 13/04/2020 17:16 WIB
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan pihaknya mengemukakan pendapat berdasarkan data terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Erupsi Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta agar para ahli tidak sembarangan berasumsi tanpa data terkait dentuman misterius pada Sabtu (11/4) dini hari, yang terjadi usai erupsi Anak Krakatau.

Pasalnya, asumsi tanpa data itu disebut bisa mengakibatkan kepanikan publik. Hal ini diutarakan berkaitan dengan banyaknya asumsi peneliti dan ahli yang tak didasari dengan angka.


Kepala Bidang Mitigasi PVMBG Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana mengatakan pihaknya selalu menggunakan data terkait aktivitas vulkanologi dari Pos Pemantauan Gunung Api.


Di sisi lain, Pos Pemantau Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten tak melaporkan adanya dentuman meski Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi ringan.

"Saya pikir, sebaiknya jika ada orang yang berasumsi, perlu ditanya model realistisnya bagaimana, hitungan matematisnya bagaimana, supaya nanti ada jawaban eksplisit sumbernya apa dan tidak mengambang. Kasihan masyarakat dibuat bingung dan bertanya-tanya tanpa penjelasan yang menghasilkan kesimpulan," kata Devy saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (13/4)/

Devy mengatakan PVMBG mengandalkan data dari Pos Pemantauan Gunung Api dan tidak sembarangan mengeluarkan asumsi. Jawaban PVMBG jelas bahwa berdasarkan data, dentuman tak berasal dari Gunung Anak Krakatau.

Devy yakin apabila dentuman terjadi di Gunung Anak Krakatau maka Pos Pemantau akan mencatat dentuman dan warga sekitar Gunung Anak Krakatau, seperti Banten, Carita, Lampung dan sekitarnya akan melaporkan dentuman tersebut. Nyatanya dentuman hanya dirasakan di daerah Jabodetabek saja.

Berkaitan dengan hal itu,  Devy mengatakan dalam fisika dikenal Doppler Effect. Fenomena Doppler Effect yang ditemukan Christian Doppler pada 1842 ini mengemukakan terdapat perbedaan frekuensi yang diterima objek pendengar bila sedang bergerak mendekat atau menjauhi sumber suara. 

Devy menjelaskan suara akan lebih terdengar oleh pendengar di jarak yang lebih dekat. Sifat gelombang suara adalah energi suara semakin mengecil jika jarak semakin menjauh. Ia juga menjelaskan sifat gelombang suara, frekuensi tidak akan berubah meskipun dia bergerak jauh, karena frekuensi suara mencerminkan karakteristik akustik sumber.

Namun, mengutip dari ensiklopedia online Brintannica, efek Doppler adalah fenomena ketika pendengar bergerak relatif terhadap sumber bunyi. Maka, pendengar seolah mendengar suara dengan frekuensi lebih tinggi ketika objek mendekat, dan lebih kecil saat objek menjauh. 

"PVMBG hanya melaporkan data dari para petugas di kedua Pos pantau tidak mendengar. PVMBG mempercayai petugas Pos yang tersebar di seluruh Indonesia, mereka bebas dari kepentingan, tidak ada tekanan, mereka pasti jujur melaporkan apa adanya. Data adalah senjata utama PVMBG" ujar Devy.


Sebelumnya, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan suara dentuman yang didengar sejumlah warga di wilayah DKI Jakarta hingga Jawa Barat pada Sabtu (11/4) dini hari bukan berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau, tapi petir yang terdengar lebih keras dari biasanya.

Sementara ahli vulkanologi sekaligus mantan Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Surono, berpendapat beda. Ia menyebut dentuman berasal dari Anak Krakatau.

Di sisi lain, Volkanolog Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan suara dentuman bisa terjadi salah satunya karena aktivitas magma dari suatu gunung api. Hal itu terjadi akibat perpindahan magma secara tiba-tiba dari dapur magma ke lokasi yang lebih dangkal. (jnp/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK